Dewi Oktavia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Artikel Pneumonia (studi literatur)

ABSTRAK

Penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Dari seluruh kematian kematian balita, proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30%. Kematian ISPA ini sebagian besar ialah oleh karena pneumonia. Menurut Sectish (2004), pneumonia adalah suatu peradangan pada parenkim paru. Pada artikel ini akan dibahas mengenai penyakit pneumonia pada balita yang mencakup tentang definisi, permasalahan pneumonia balita  di Indonesia, epidemiologi pneumonia, klasifikasi pneumonia, gejala, penyebab, faktor risiko pneumonia , dan upaya pencegahannya. Metode yang digunakan dalam membuat artikel ini adalah dengan menggunakan studi literatur.

ABSTRACT

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama di Indonesia. Peranannya dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat cukup besar karena sampai saat ini penyakit infeksi masih termasuk ke dalam salah satu penyebab yang mendorong tetap tingginya angka kesakitan dan angka kematian di tanah air. Salah satu penyakit yang diderita masyarakat adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan pada balita di negara berkembang termasuk Indonesia.(1)

Di Indonesia, pneumonia menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan TBC. Dari seluruh kematian kematian balita, proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30%. Kematian ISPA ini sebagian besar ialah oleh karena pneumonia. Menurut laporan WHO sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat pneumonia.(2)

Blum mengatakan masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri, demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tapi juga dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah ”sehat-sakit”. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. (3)

Pneumonia merupakan penyakit yang terjadi pada balita yang dipengaruhi oleh faktor: gizi, mekanisme pertahan tubuh, bibit penyakit, dan lingkungan yang menguntungkan sebagai tempat perkembangan bibit penyakit dan juga udara sebagai perantara dengan kualitas dan kuantitas tertentu.(2)

Meskipun penyakit pneumonia sudah ada  program dari Departemen Kesehatan untuk penanggulangannya yaitu Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut,  namun kondisi penyakit ini masih menjadi tantangan serius bagi dunia kesehatan. Pencegahan terhadap penyakit ini juga diharapkan dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai penyakit Pneumonia pada Balita agar dapat mencegah timbulnya penyakit tersebut terutama pada balita.

DEFINISI

Menurut Sectish (2004), pneumonia adalah suatu peradangan pada parenkim paru. (5). Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Dalam pelaksanaan pemberantasan penyakit ISPA semua bentuk pneumonia disebut juga pneumonia saja.(4)

Permasalahan Pneumonia Balita  di Indonesia

Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di Indonesia yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita. Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah dalam menaggulangi angkan kesakitan dan kematian akibat pneumonia ini. Namun belum mencapai target yang diharapkan. (5)

EPIDEMIOLOGI

Di seluruh dunia setiap tahun diperkirakan terjadi lebih 2 juta kematian balita karena pneumonia. Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia menurut Survey Kesehatan rumah Tangga tahun 2001 kematian balita akibat pneumonia adalah 5 per 1000 balita per tahun.(3). Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya.(6)

Pada umumnya pneumonia disebabkan oleh pneumokokus. Di negara dengan empat musim, pneumonia mencapi puncaknya pada musim dingin dan awal musim semi, sedangkan kejadian pneumonia di Indonesia sering terjadi pada musim hujan. Insiden pneumonia lebih banyak ditemukan pada usia empat tahun ke bawah, yang kemudian berkurang dengan meningkatnya umur. Angka karier tipe patogen tersebut tinggi di dalam suatu kondisi lingkungan yang padat seperti rumah yatim piatu, taman kanak-kanak dan sekolah-sekolah. Bayi dan balita lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitasnya masih belum berkembang dengan baik, anatomi saluran pernafasan yang relatif senpit, malnutrisi, dan kegagalan mekanisme pertahan tubuh lainnya.(7)

Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh pneumokokus, ditemukan pada orang dewasa dan anak, sedangkan bronkopneumonia lebih sering ditemukan pada anak kecil dan bayi. Pada pneumonia bakteri sebagian besar agen yang umum merupakan inhibition normal (penghambat normal) dari saluran nafas bagian atas. Infeksi ini terjadi secara sporadik sepanjang tahun tetapi yang sering pada musim dingin dan semi, dengan laki-laki terkena dua kali lebih sering dari perempuan.(7)

KLASIFIKASI PNEUMONIA

Berdasarkan Pedoman Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita Depkes 2002 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dapat diklasifikasi sebagai berikut: (8)

  1. Pneumonia berat

Pneumonia berat ini didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan- < 5 tahun. Untuk kelompok umur <2 bulan diagnosis Pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat (fast brehathing), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam.

  1. Pneumonia

Klasifikasi pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya napas sesuai umur. Batas napas cepat pada anak usia 2 bulan-<1 tahun adalah 50 kali per menit dan 40 kali per menit untuk anak usia 1-<5 tahun.

  1. Bukan pneumonia

Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi napas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.(8)

GEJALA
Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah: (10)

  1. Batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan atau seperti nanah)
  2. nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk)
  3. menggigil
  4. demam
  5. mudah merasa lelah
  6. sesak nafas
  7. sakit kepala
  8. nafsu makan berkurang
  9. mual dan muntah
  10. merasa tidak enak badan
  11. kekakuan sendi
  12. kekakuan otot.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

  1. kulit lembab
  2. batuk darah
  3. pernafasan yang cepat
  4. cemas, stres, tegang
  5. nyeri perut. (10)

PENYEBAB
Penyebab pneumonia adalah: (9)

1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa):

  1. Streptococcus pneumonia

Pneumonia yang disebabkan oleh Streptococcus pneumonia adalah bentuk infeksi bakteri paru yang paling sering memerlukan perawatan di rumah sakit, ia dapat terjadi pada setiap kelompok umur. Infeksi ditandai oleh kenaikan suhu yang sangat cepat dan batuk produktif sputum seperti karat besi. Penderita biasanya dispnea dan sering mengeluh nyeri dada pleuritis. Angka mortalitas untuk bentuk pneumonia ini tetap pada 15-20% walaupun tersedia terapi kuratif antibiotik.

  1. Mycoplasma pneumoniae

Infeksi paru yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae paling sering didiagnosis pada orang dewasa muda dan anak-anak. Pneumonia mikoplasma umumnya ringan, dengan gejala demam dan batuk. Penyakit ini mulanya perlahan-lahan dengan gejala nonspesifik seperti sakit kepala, malaise, dan demam.

  1. Legionella spesies

Legionella spesies adalah penyebab pneumonia yang relatif sering pada orang dewasa, menyebabkan infeksi paru dari sebagian besar penderita rumah sakit. Infeksi ini umumnya datang dengan kaku, demam, dan gejala saluran pernapasan, tetapi permulaannya agak kurang mendadak daripada pneumonia yang disebabkan oleh S. pneumonia.

  1. Haemophilus influenzae

Haemophilus influenzae adalah penyebab lazim infeksi saluran pernapasan bawah pada anak-anak, tetapi manifestasi paling dramatis epiglotis atau meningitidis.

2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air).

3. Jamur tertentu.

Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:

  1. Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar
  2. Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
  3. Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.(9)

Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri, yang tersering yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumococcus). Pneumonia pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae.(10)

Faktor Risiko Pneumonia

  1. 1. Faktor Anak
    1. Umur

Pneumonia dapat menyerang pada semua tingkat usia, terutama pada balita karena daya tahan tubuh balita lebih rentan daripada orang dewasa. Menurut Foster (1984), Faktor daya tahan tubuh turut berperan dalam kaitan antara umur dan infeksi saluran pernapasan. (11)

  1. Jenis kelamin

Menurut Sutrisna (1993), Pengaruh jenis kelamin pada kejadian pneumonia di Indramayu, yang merupakan study cohort selama 1,5 tahun didapatkan persentase yang lebih besar pada laki-laki (52,9%) dibandingkan perempuan. (5)

  1. Status Gizi

Status gizi merupakan salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan anak. Dalam keadaan keadaan gizi baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan tubuh terhadap penyakit infeksi. Jika keadaan gizi menjadi buruk, maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap penyakit infeksi. Hasil penelitian Sukarlan (2004), menunjukkan bahwa status gizi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian pneumonia balita.Intervensi potensial untuk mencegah pneumonia balita pada negara-negara berkembang di Amerika latin yaitu perbaikan gizi. (5)

  1. Status Imunisasi Campak

Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pneumonia dapat dicegah dengan adanya imunisasi campak dan pertusis. Penelitian Sutrisna di Indramayu, 1997 menunjukkan hubungan antara status imunisasi campak dan timbulnya kematian akibat pneumonia antara lain, anak-anak yang belum pernah menderita campak dan belum mendapat imunisasi campak mempunyai risiko meninggal yang lebih besar. (5)

  1. Berat Badan Lahir Rendah

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Bayi dengan BBLR dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas karena rentan terhadap penyakit infeksi. BBLR berisiko pada penurunan kecerdasan anak, pertumbuhan terlambat, imunitas rendah,  terkena hipoglikemia. Hipotermia, dan mengidap penyakit degeneratif saat dewasa.(12)

  1. faktor ibu
  1. Pendidikan Ibu dan Pengetahuan Ibu

Menurut Ware (1984) tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu juga berdampak besar dalam kejadian pneumonia balita. Tingginya morbiditas atau mortalitas bukan karena ibunya tidak sekolah, melainkan karena anak-anak tersebut mendapatkan makanan yang kurang memadai, ataupun terlambat dibawa ke pelayanan kesehatan. (5)

  1. Faktor Lingkungan
  1. Polusi Asap Rokok

Polusi udara menimbulkan masalah kesehatan di seluruh dunia serta paling sering dihubungkan dengan pabrik, industri, dan dengan udara luar. Tetapi sumber terbesar dari polusi udara yang berbahaya adalah asap rokok. Disamping itu, bahaya polusi udara di dalam terhadap kesehatan ternyata seringkali lebih buruk dibandingkan dengan polusi di luar, bahkan di sbuah kota industri sekalipun.(13)

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker. Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok juga mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak, dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Hal ini menyebabkan risiko lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah,  brochitis dan pneumonia, infeksi rongga telinga dan asma.pada janin, bayi, dan anak-anak.(3)

  1. Kepadatan Hunian Kamar

Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh hunian rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai 3 m2/orang dan untuk mencegah penularan penyakit pernapasan, maka jarak antara tempat tidur satu dengan tempat tidur lainnya minimum 90 cm. dalam hubungan dengan penyakit ISPA khususnya kejadian pneumonia pada balita, maka kepadatan hunian dapat menyebabkan infeksi silang. Dengan adanya penderita ISPA di suatu ruangan maka penularan penyakit melalui udara ataupun “droplet” akan  cepat terjadi. Pada saat batuk, agen penyebab penyakit keluar dalam bentik “droplet” dan akan terinspirasi ke udara yang selanjutnya masuk ke “host” baru melalui saluran pernapasan.(3)

  1. Kondisi Ekonomi

Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang sehat mendorong peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap serangan berbagai penyakit menular termasuk ISPA. Pada akhirnya akan mendorong meningkatnya penyakit ISPA dan Pneumonia pada Balita.(8)

PENCEGAHAN

Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2ISPA). Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangannya. (14)

Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia. Yaitu, usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Klasifikasi Bukan-pnemonia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain batuk-pilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis. (14)

Mengingat pengobatannya yang semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatkan resistensi bakteri pneumokokus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan. Pencegahan penyakit IPD (Invasive Pneumococcal Diseases) termasuk pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Menurut Atilla yang juga bertugas di klinik khusus tumbuh kembang anak RSAB Harapan kita, peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%. (14)

Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD, menurut penjelasan Atilla adalah sebanyak 4 kali, yakni pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usia 12 bulan. Vaksin itu aman dan dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti Hib, MMR maupun Hepatitis B. (14)

Selain imunisasi, para orang tua dapat melakukan pencegahan pneumonia pada balita dengan memperhatikan tips berikut: (6)

  1. Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat keramaian yang berpotensi penularan.
  2. Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA.
  3. Membiasakan pemberian ASI.
  4. Segera berobat jika mendapati anak mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk (retraksi).
  5. Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera ke rumah sakit jika kondisi anak memburuk.(6)

KESIMPULAN

  1. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).
  2. Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di Indonesia yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita.
  3. Secara epidemiologi, pneumonia umumnya banyak diderita oleh balita, disebabkan oleh pneumokokus, di Indonesia sering terjadi pada saat musim hujan, dan rentan terhadap kondisi lingkungan yang padat.
  4. Klasifikasi pneumonia dibedakan menjadi 3 macam yaitu pneumonia berat, pneumonia, dan bukan pneumonia.
  5. Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah batuk berdahak, nyeri dada, sesak nafas, dll.
  6. Penyebab  pneumonia yang paling sering memerlukan perawatan rumah sakit adalah pneumonia pneumokokus yang disebabkan oleh Streptococcus pneumonia.
  7. Faktor risiko pneumonia dapat dilihat dari faktor anak,  ibu, lingkungan, serta kondisi ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Rasmaliah. 2004.  “Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penanggulangannya” dalam http://library.usu.ac.id. 29 Januari 2010. 19:05:10 WIB.
  2. Supriyatno. 2003. ”Waspada Pneumonia pada Anak” dalam www.kesonline.com. 29 Januari 2010. 19:25:15 WIB
  3. Notoatmodjo S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
  4. Depkes RI. 2002. Surve Kesehatan Nasional 2001. Laporan Studi mortalitas 2001. Badan Litbangkes, Jakarta.
  5. Machmud R. 2006. Pnneumonia Balita di Indonesia dan Peranan Kabupaten dalam Penanggulangannya. Padang: Andalas University Press
  6. 6. 2007. “Waspada Pneumonia, bukan sekedar Panas Batuk Pilek” dalam  http://cakmoki86.wordpress.com. 10 Januari 2010. 13:10:15 WIB.
  7. 7. Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta: Depkes.
  8. 8. 2009. ”Pneumonia Rentan Terjadi Pada Bayi Dan Balita” dalam http://www.surabaya-ehealth.org. 10 Januari 2010. 13:20:56 WIB
  9. Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta: Depkes

10.  “Pneumonia” dalam http://www.indonesiaindonesia.com 29 Januari 2010. 19:05:10 WIB

11.  Sukarlan. Faktor risiko kejadian pneumonia pada balita di rumah sakit umum ulin di kota banjarmasin kalimantan selatan.2004 dari: http//adln.lib.unair.ac.id.

12.  Siswono. 2001. “Berat Lahir Tentukan Kecerdasan Anak” dalam http//www.gizi.net. 30 Januari 2010. 16:10:05 WIB

13.  Kusnoputranto H. 1995. Pengantar Toksikologi Lingkungan. Jakarta : Depdikbud

14.  “Waspada Pneumonia pada Anak” dalam http://www.sinodegbi.org. 30 Januari 2010. 20:15:10 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: