Dewi Oktavia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Masalah – Masalah Yang Ditemukan Selama Perjalanan Haji

A. Masalah Cuaca

Pelaksanaan ibadah haji tahun ini jatuh pada bulan Desember. Pada saat itu, Arab Saudi diterpa musim dingin yang dimulai sejak bulan Oktober hingga bulan Maret. Puncak musim dingin ini akan berlangsung pada bulan Desember-Januari. Pada saat itu, suhu udara bisa mencapai dua derajat celcius. Pada saat musim panas, yang jatuh pada bulan April, suhu udara di Arab Saudi bisa mencapai 55 derajat celcius disertai angin panas.
Menurut situs http://www.informasihaji.com yang disediakan Departemen Agama, musim dingin di Arab Saudi diawali dengan angin bertiup kencang disertai badai debu. Kelembaban udara di Arab Saudi sangat rendah. Dengan kata lain, meskipun dingin, udaranya sangat kering. Karena udaranya kering sering kali jemaah haji tidak merasa haus karena tubuhnya tidak berkeringat. Tubuh tidak berkeringat karena air dari dalam tubuh kita langsung menguap diserap udara luar.
Penyakit yang sering muncul akibat udara dingin yang kering ini, antara lain kulit bersisik disertai gatal, batuk dan pilek, penyakit saluran cerna, gangguan otot dan tulang, mimisan, bibir pecah-pecah, dan dehidrasi. Kondisi ini juga memperberat penyakit-penyakit yang sudah diderita pada jemaah risiko tinggi (risti) seperti jantung, diabetes, asma, rematik, darah tinggi, dan lain-lain. Selama beribadah, jemaah haji akan tinggal di Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Dari ketiga kota itu, suhu udara di Madinah adalah yang paling dingin, berkisar 13-33 derajat celcius. Mekkah dan Jeddah suhunya masing-masing 22-35 derajat celcius dan 17-33 derajat celcius.

Pencegahan penyakit akibat suhu dingin tersebut diharapkan para jamaah haji :
1) Minum setiap jam
Meskipun tidak haus, disarankan minum air satu gelas (300 cc) setiap satu jam. Ini untuk mencegah kekurangan cairan (dehidrasi). Total air minum yang harus dikonsumsi lebih kurang 5-6 liter per hari.
2) Makan yang teratur
Agar tubuh tidak lemah, jemaah haji juga harus makan teratur. Ketika berada di Mekkah, selama 21 hari, jemaah haji harus menanggung sendiri makanan yang dibutuhkan. Adapun ketika berada di Madinah, selama tujuh hari, konsumsi ditanggung pemerintah. Jemaah juga disarankan untuk mengonsumsi banyak sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung air, seperti jeruk, apel, pisang, melon, semangka, dan lain-lain. Namun, untuk buah anggur, banyak jemaah yang mengeluh sakit radang tenggorokan setelah mengonsumsi buah ini.
3) Minum susu
Untuk menjaga ketahanan tubuh, minum susu dianjurkan setiap hari. Susu ini banyak dijual di sepanjang jalan. Bermacam-macam susu dijual, mulai dari susu sapi, susu kambing, hingga susu kuda.
4) Makan Makanan hangat
Jemaah haji juga disarankan untuk mengonsumsi makanan dan minuman dalam keadaan masih hangat. Makanan atau minuman dingin dikhawatirkan tidak terlindung dari kuman penyakit serta dapat mengganggu daya tahan tubuh. Jangan lupa mengonsumsi air matang.
Menghindari tubuh dari terpaan udara penting dilakukan agar kulit tidak kering dan bersisik serta cairan tubuh tidak diserap udara luar. Pemakaian pelembab kulit dan pelembab bibir sangat disarankan.
5) Istirahat yang cukup
Karena kegiatan selama menunaikan ibadah haji cukup banyak, sebaiknya jemaah haji tetap memerhatikan istirahat yang cukup. Tidur tidak boleh kurang dari 6-8 jam sehari serta selalu menggunakan selimut pada waktu tidur karena udara dingin. Agar bisa menjalankan ibadah wajibnya selama tujuh hari, batasi kegiatan-kegiatan yang tidak perlu atau tidak ada hubungannya dengan kegiatan ibadah haji supaya tubuh tetap sehat.
6) Memakai pakaian yang sopan, rapi, dan tebal
Agar dapat meredam pengeluaran panas tubuh serta dapat melindungi tubuh dari serangan cuaca dingin maka jemaah haji dianjurkan memakai pakaian yang sopan, rapi, dan tebal.
7) Membawa obat-obatan
Membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsi sangat disarankan meskipun di tempat ibadah haji banyak tersedia apotek. Obat-obatan ini harus dikonsultasikan dulu dengan dokter, terutama bagi jemaah risiko tinggi. Jemaah risiko tinggi juga harus mematuhi diet dari dokter.

Kondisi alam dan iklim Arab Saudi mempunyai perubahan suhu dan kelembaban yang sangat berbeda. Sangat ekstrim dengan cuaca di Indonesia. Adakalanya cuaca sangat panas. Banyak jamaah haji yang jatuh sakit di negeri panas. Jelas ini sangat mengganggu ibadah mereka. Ini disebabkan makanan yang tidak bergizi dan dikosumsi tak teratur, kurang istirahat, penyakit yang diderita sebelumnya di tanah air dan sebagainya. Sebagai pencegahnya, jamaah haji kita sangat dianjurkan untuk makan teratur. Makanan yang dikosumsi pun harus yang bergizi dan bervitamin seperti sayur-sayuran, buah-buahan, jus, dan sebagainya
Selain makan yang bergizi dan teratur, jamaah haji harus menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup, karena ibadah haji adalah ibadah yang membutuhkan tenaga ekstra dan fulltime selama sebulan lebih. Saat ada waktu jeda antara shalat lima waktu atau ibadah lainnya, manfaatkanlah waktu luang itu untuk istirahat bila tidak ada hal mendesak dan penting. Yang mesti diutamakan adalah beribadah maksimal selama di tanah suci. Bayangkan, untuk dapat shalat shubuh di dalam Masjidil Haram atau Nabawi, para jamaah harus berjuang melawan dingin malam dan kantuknya, lalu berlomba bersegera ke masjid pukul 3 malam. Sedangkan shalat shubuh sekitar pukul 5 pagi. Padahal semalam pulang dari masjid pukul 10. Paling cepat tidur pukul 11.

B. Pemondokan Jauh

Pemondokan adalah variabel kritis penyelenggaraan ibadah haji. Di samping kondisi kelayakan huni rumah, jarak dari Masjidil Haram akan sangat memengaruhi keoptimalan ibadah jamaah haji. Pemondokan menjadi masalah krusial untuk musim haji tahun ini, terutama untuk pemondokan di Kota Makkah. Tahun ini lokasi pemondokan mayoritas berada di radius lebih dari 1.400 meter dari Masjidil Haram. Penyebab utamanya tahun ini penyewaan pemondokan kita amat terlambat, juga penawaran harga kita yang terlalu rendah.
Jauhnya pemondokan dari masjidil Haram dan masjid Nabawi, pemondokan yang tidak layak dihuni (kamar mandi rusak, fentilasi tidak ada, AC tidak ada, dll), penempatan jamaah yang melebihi kapasitas, tidak sesuai penempatan seperti yang dijanjikan di tanah air, dll. Hal yang amat menjengkelkan, dan amat tak sesuai dengan biaya mahal yang dipungut.
Pemerintah menjelaskan pemondokan yang berada dalam radius 1.400 meter dari Haram hanya mencapai 17,62 persen atau menampung 35.315 jamaah. Di luar itu, lebih dari 150 ribu jamaah akan menempati pemondokan yang lebih jauh. Bahkan, di dua titik pemondokan terpadat, Aziziah Janubiah dan Sauqiah, jaraknya 3-7,5 kilometer dari Haram. Untuk lokasi Aziziah Mahatta Bank, jamaah harus menempuh jarak 7-8 km untuk mencapai Masjidil Haram. Ada pula pemondokan yang berjarak sampai 12 km dari Haram.
Jamaah haji Indonesia tak hanya terdiri dari yang bugar fisik dan cukup pengalaman serta pengetahuan dalam bepergian ke luar negeri. Banyak yang sudah berusia lanjut, dengan kondisi fisik yang tak lagi prima. Jarak yang cukup jauh, bahkan mungkin ada yang harus sejauh 10 km dari Masjidil Haram, di negeri asing, dengan segala keawaman mereka, akan menjadi potensi masalah tersendiri. Bisa dibayangkan bila pemondokannya berjarak 10 kilometer, lebih dari 1.500 km yang harus ditempuh. Tentu ini amat melelahkan, dengan faktor iklim yang ekstrim pula. Maka kesiapan tim kesehatan haji amat dibutuhkan. Kesigapan tim, juga obat-obatan yang sesuai dan memadai, serta alat-alat kesehatan yang lengkap.

C. Transportasi

Salah satu hal kecil yang terabaikan tetapi dapat berakibat fatal adalah bus-bus kita di terminal tidak mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda yang akan dengan mudah dikenali di tengah kepadatan jutaan manusia. Pernah seorang ibu menunggu dua jam di pinggir terminal karena tidak tahu mana bus yang harus dinaikinya, sementara dia memiliki keterbatasan pemahaman bahasa dalam berkomunikasi. Kesulitan yang paling dirasakan jemaah haji Indonesia 1429 adalah angkutan antara pondokan di Syauqiah ke Masjidil Haram, karena bus yang disediakan pemerintah sulit diperoleh akhirnya jemaah harus mencari angkutan umum sendiri pulang pergi agar bisa beribadah ke Masjidil Haram.
Juga pengalaman sebelumnya, bus ada tetapi tidak dapat digunakan karena ditinggalkan begitu saja oleh para pengemudinya. Jamaah harus mengeluarkan biaya ekstra untuk naik taksi. Untuk menempuh jarak tersebut jemaah naik angkot dengan tarif cukup bervariasi.

D. Tenaga kesehatan

Tim kesehatan harus mengutamakan kepentingan jamaah daripada kepentingan masing-masing. Shalat di Masjidil Haram setiap waktu tentu sebuah kebaikan yang amat didambakan setiap Muslim. Namun, keberadaan dokter yang stand by tentu dalam hal ini lebih utama, sesuai tugas keberangkatannya. Dengan mekanisme shift yang adil tentu ini dapat diatasi. Seandainya anggota tim kesehatan berkeinginan menunaikan ibadah haji, disarankan mengambil manasik haji tamattu agar dapat lebih optimal melayani kebutuhan jamaah.
E. Penerbangan

Jutaan jamah haji yang tiap tahun menggunakan jasa airline sejatinya menyumbang signifikan bagi keberlangsungan maskapai penerbangan yang digunakan secara rutin tersebut. Apresiasi yang diharapkan dari pihak jasa penerbangan tentunya adalah ketepatan jadwal penerbangan. Keterlambatan yang terjadi masih memprihatinkan. Tahun lalu masih terjadi delay hingga 30 jam. Kondisi ini amat memperburuk kesehatan jamaah. Sebaiknya pihak airline lebih bertanggung jawab dalam pelayanannya, dengan menyiapkan kondisi pesawat secara prima. Jangan terulang lagi kerusakan yang harus menunggu datangnya spare part dari luar negeri untuk perbaikannya.

F. Katering

Para jamaah dilarang oleh petugas maktab untuk membawa makanan dan minuman. Petugas itu berjanji menyediakan katering selama di Arafah dan Mina. Namun, kenyataannya katering tidak kunjung datang, sehingga banyak para jamaah yang kelaparan. Tidak sedikit jamaah jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal pada peristiwa ini. Masalah catering haji sepanjang pelayanan haji tetap bermasalah walaupun upaya-upaya perbaikan setiap tahunnya terus dilakukan.
Segeralah menyantap makanan yang disajikan pada waktu kita mendapat jatah, karena makanan yang ada standarnya +/- 5 jam dan setelah itu makanan tersebut sudah rusak atau tidak layak dikonsumsi. Hal ini kurang disadari oleh jamaah haji sendiri, dengan alasan masih kenyang maka makanan yang dibagikan dan seharusnya dikonsumsi saat itu namun dengan alasan tadi dikonsumsi diwaktu nanti.
Selalu berhati-hati terhadap makanan yang diberikan, jangan terlalu yakin kalau makanan yang kita peroleh dari catering benar-benar layak dikonsumsi secara kesehatan, karena terkadang memang makanan dari perusahaan catering tersebut sudah rusak. Terkadang daging sudah mengeluarkan busa, sayuran sudah berubah rasa, nah karena kita terlalu yakin bahwa makanan yang dibagikan sudah sesuai dengan standar kontrol kesehatan yang telah ditetapkan maka tanpa ragu lagi kita santap aja makanan tersebut. Sebaiknya makanan yang dicurigai tidak layak dikonsumsi jangan dipaksakan untuk dimakan, karena hal ini bisa berakibat terhadap gangguan kesehatan terutama diare. jika mendapati kondisi makanan yang rusak segeralah laporkan ke petugas.
Hindari membeli makanan dipinggir jalan, sebaiknya belilah makanan di restoran-restoran yang tersedia di dekat penginapan atau masjid karena kalau ditempat resmi mereka selalu diawasi akan pengolahan dan penyajiannya, bahkan kalau pas ada sidak (inspeksi mendadak) dan kedapatan restorannya ada yang tidak sesuai standar kesehatan penyajian maka bisa terkena denda bahkan kurungan badan.
Catatan untuk hal ini adalah pada cita rasa makanan, dengan asumsi masalah ketepatan waktu penyajian sudah diantisipasi betul. Tentu bukan mudah bagi jamaah untuk menyantap makanan dengan cita rasa yang asing di lidah sehingga kerap kebutuhan nutrisi mereka menjadi tidak terpenuhi. Maka jamaah yang jatuh sakit menjadi bertambah. Dalam hal ini cita rasa masakan Indonesia perlu sungguh-sungguh diperhatikan, dengan mendatangkan bumbu-bumbu masakan langsung dari Tanah Air. Juga akan lebih membantu bila katering yang biasa melayani jamaah umrah dilibatkan optimal karena tentu pengalaman pelayanan mereka akan sangat membantu.

G. Keamanan dan Kenyamanan

Pencurian di pemondokan atau hotel sangat sering terjadi. Maka kepada jamaah haji diingatkan agar selalu waspada dan berhati-hati, jangan pernah lalai dan lengah semenit pun di sana. Simpanlah uang dan harta berharga dengan baik. Pastikan pintu kamar pemondokan atau hotel terkunci dan kuncinya dibawa.
Tingginya angka kematian, baik karena kecelakaan jalan raya, thawaf, sa’i, lempar jumrah dan sebagainya, harus menjadi pelajaran berharga. Faktor utama kecelakaan saat di area berhaji adalah ketidaksabaran para jama’ah. Diharapkan kepada para jamaah, agar mematuhi peraturan lalu lintas dan aturan pelaksanaan haji oleh pemerintah Arab Saudi, baik ketika thawaf, sa’i maupun lempar jumrah. Jangan memaksakan diri untuk melempar jumrah bila kondisi penuh sesak. Jangan paksakan diri thawaf berdekatan dengan ka’bah pada waktu berdesak-desakan. Thawaf dibolehkan di lantai II atau lantai III. Begitu juga dengan sa’i. Keselamatan lebih diutamakan daripada mengejar perbuatan afdhal.

Sumber:

.“Waspadai makan selama di tanah suci” dalam http://abusyafwan.blogspot.com/.2008 diakses 05 November 2009: 12:11:10 WIB

“Tips menjaga kesehatan selama haji” dalam http://drlizakedokteran.blogspot.com/2009. diakses 05 November 2009: 11:56:10 WIB

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3591

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: