Dewi Oktavia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

“Kemungkinan Penyakit-Penyakit yang diderita Jemaah dalam Pelaksanaan Ibadah Haji”

Tingginya angka kematian dan angka kesakitan pada jemaah haji selama berada di Arab Saudi sangat erat kaitannya dengan faktor usia jamaah (usia lanjut) dengan berbagai penyakit kronik yang diidap, iklim yang sangat jauh berbeda, penatalaksanaan kesehatan sebelum berangkat, pencatatan status kesehatan tidak akurat pada buku kesehatan jamaah, ketepatan dan kecepatan diagnosis pada keadaan emergensi, serta kecepatan dan ketepatan penanggulangan kasus-kasus gawat darurat.

Setiap tahun, sekitar 200.000 jamaah haji Indonesia diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ritual haji. Setiap kloter biasanya didampingi seorang dokter dan dua paramedis yang bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan selama perjalanan tersebut. Dari pengamatan setiap tahunnya, jumlah jamaah Indonesia yang meninggal antara 400 – 500 orang.

Sampai musim haji tahun 2008, usia lanjut (diatas 60 tahun) masih mendominasi jamaah Indonesia dengan persentase 30 – 40 persen tiap kloternya dan kelompok kedua terbanyak usia 40 – 60 tahun, dengan jumlah wanita lebih banyak dari pria. Berbagai penyakit kronik yang diidap jamaah, terutama yang lansia, menjadi catatan penting bagi petugas kesehatan yang mendampingi, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru kronik, penyakit hati dan pencernaan, penyakit tulang dan sendi, serta penyakit saraf seperi post stroke. Kelompok jamaah ini disebut sebagai risiko tinggi (risti). Sebab, penyakit-penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi fatal saat melaksanakan aktivitas fisik pada cuaca yang sangat panas atau sangat dingin dengan kepadatan manusia dan polusi udara yang tinggi.

Kegiatan ibadah haji adalah kegiatan fisik semata berupa jalan kaki atau berlari kecil sewaktu melaksanakan Tawwaf, Sa’i dan berjalan menuju Jamarat sewaktu berada di Mina untuk melontar Jamarat selama tiga atau empat hari berturut-turut. Kalau hanya terbatas pada pelaksanaan aktivitas fisik yang rukun dan wajib saja, sebenarnya kelelahan dapat diatasi dengan istirahat yang cukup di antara waktu kegiatan. Serta berulang kali jalan kaki dari pondokon ke masjid setiap waktu shalat.

Hal ini mengakibatkan jamaah kurang istirahat sehingga kelelahan yang akhirnya berdampak pada melemahnya daya tahan tubuh, terutama bagi jamaah lansia dan jamaah risti. Apalagi bila jamaah merahasiakan penyakitnya, merasa tidak perlu menyampaikannya kepada dokter yang mendampingi kloternya. Karenanya, setiap jamaah perlu menyampaikan kepada dokter pemeriksa pertama tentang penyakit yang diderita secara lengkap dan jelas, meski penyakit itu tidak menimbulkan keluhan.

1. Keluhan atau gejala gangguan kesehatan jamaah haji

Keluhan atau gejala gangguan kesehatan jamaah terbanyak adalah batuk, pilek, yang kadang disertai demam dan sakit tenggorokan. Ini adalah gejala dari infeksi saluran nafas akut. Keluhan lainnya berupa sakit otot dan sendi serta lesu dan lelah sebagai akibat aktivitas fisik (jalan kaki) yang lebih banyak dari biasanya. Setiap keluhan penyakit, jangan dianggap enteng, karena kondisi lingkungan saat itu sangat memudahkan terjadi berbagai komplikasi, terutama infeksi.

Pemakaian masker hidung dan mulut yang telah disediakan panitia haji sangat bermanfaat dalam mencegah terjadinya infeksi saluran nafas. Dengan menggunakan masker selama kegiatan ritual haji, dapat mengurangi risiko infeksi saluran nafas sebesar tiga kali, dibanding jamaah yang tidak mengenakan masker.

Salah satu tugas TKHI adalah melakukan pengelolaan faktor risiko jemaah haji di kloternya, mulai dari proses identifikasi faktor risiko, pemetaan, pemantauan, sampai ke pengendalian faktor risiko.

Faktor risiko dapat berasal dari jemaah sendiri (internal), yaitu kondisi kesehatan/penyakit yang melekat pada jemaah yang dapat menjadi berat selama perjalanan ibadah haji. Dapat juga berasal dari lingkungan di luar jemaah (eksternal), seperti kemungkinan tertular penyakit, terpapar aktifitas fisik yang padat, kepadatan orang, iklim di Arab Saudi, dan lain sebagainya. Faktor risiko ini harus diwaspadai dan dikelola sebaik mungkin agar tidak muncul dan mengganggu kelancaran ibadah haji atau menyebabkan kematian.

2. Identifikasi Faktor Risiko Jemaah Haji di Kloter

a. Faktor Risiko Internal

Faktor risiko internal yang perlu diwaspadai dan diamati antara lain: Gangguan kesehatan/penyakit yang ada pada jemaah, seperti hipertensi, penyakit jantung, asma, PPOK, diabetes, stroke, dll.

Perilaku yang potensial menimbulkan gangguan kesehatan seperti: kebiasaan merokok, menyimpan jatah makanan untuk dimakan di lain waktu (menunda makan), dll. Faktor risiko internal yang berupa gangguan kesehatan/penyakit dapat diketahui dari hasil pemeriksaan kesehatan 1 dan 2 yang terekam pada Buku Kesehatan Jemaah Haji (BKJH), dan hasil pemeriksaan kesehatan akhir di embarkasi yang dapat dilihat pada pramanifest kloter. Faktor risiko internal berupa perilaku dapat diketahui dengan pengamatan jemaah haji oleh TKHI kloter.

b. Faktor Risiko Eksternal

Prosesi haji sarat dengan kegiatan fisik yang harus dilaksanakan secara sempurna dengan waktu yang telah ditentukan di berbagai tempat sekitar kota Mekkah meliputi:

a) Tawaaf (mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali, dengan arah berlawanan jarum jam, dimana ka’bah berada di sisi kiri badan).

b) Sai (berjalan sambil berlari kecil pulang balik sebanyak tujuh kali dari bukit Safa ke Mawa, yang berkisar 500 m sekali jalan).

c) Wukuf di Arafah selama satu hari (berangkat dari Mekkah sehari sebelum wukuf, dan tidur di bawah tenda pada malam sebelum wukuf).

d) Bermalam di Musdalifah di ruang terbuka, beratapkan langit dan berlantai tanah yang dipenuhi dengan debu dan manusia yang sangat padat dan diselimuti cuaca dingin.

e) Lontar Jumroh sekali sehari selama tiga hari. Perjalanan dari pemondokan ke Jamarat berjarak 2-5 km, sangat padat oleh jemaah yang lalu lalang, dan berdesakan saat melontar jumroh.

3. Potensial Penyakit di Arab Saudi

A. Penyakit Menular

Beberapa penyakit infeksi yang mempunyai potensi tinggi terinfeksi dan berbahaya selama menunaikan ibadah haji antara lain adalah:

1) Meningitis meningokokus(Radang Selaput Otak)

Adanya calon jemaah haji yang berasal dari daerah yang endemis meningitis meningokokus merupakan sumber rantai penularan penyakit ini. Penyakit ini menular dan disebabkan oleh kuman ‘meningokoccal’, yang cepat berkembang pada suhu tinggi atau rendah seperti di Arab Saudi. Kepadatan yang terjadi selama menunaikan haji merupakan faktor risiko meningkatkan penularan penyakit tersebut.

Pemerintah Arab Saudi sejak tahun 1987 mewajibkan setiap calon jemaah haji atau yang melakukan umroh harus mendapatkan vaksinasi meningitis meningokokus. Namun pada musim haji 2000 dan 2001 terjadi KLB meningitis meningokokus dengan jumlah penderita masing-masing 1300 dan 1109 orang. Lebih dari 50% penderita di atas disebabkan oleh karena N. meningitidis serogroup W135. Terjadi perubahan pola penyebab penyakit. Sejak tahun 2001 pemerintah Arab Saudi sudah diperkenalkan vaksin meningitis kuadrivalen. Namun demikian disadari bahwa ada kemungkinan munculnya strain liar yang fatal.

Faktor-faktor pencetus terjangkitnya penyakit ini:

a) Daya tubuh lemah

b) Tinggal di tempat yang padat

c) Bergaul langsung dengan penderita, atau kontak langsung melalui air ludah, dahak,ingus dan debu.

Tanda-tanda dan gejala:

a) Panas mendadak

b) Sakit kepala

c) Perut mual dan muntah

d) Bicara tidak menentu (mengigau)

e) Kaku kuduk

Pencegahan ‘Menangitis’:

a) Vaksinasi ‘Menangitis’

b) Kebersihan diri dan lingkungan

c) Menghindari tempat yang terlalu padat

d) Pengobatan propilaksis dengan sulfadiazine atau rifampycin

2) ISPA dan Influenza

Influensa merupakan penyakit yang sangat menular dan ada di Arab Saudi. Penyebabnya adalah: Virus, menular melalui udara. ISPA merupakan proporsi penyakit terbesar (57%) pasien yang dirawat inap di RS Arab Saudi. Sementara data surveilans kesehatan haji Indonesia menunjukkan bahwa kasus ISPA (THT) merupakan yang terbanyak sebagai penyebab kunjungan ke sarana pelayanan kesehatan. Studi tentang pola penyakit menunjukkan bahwa H. Influenza, K pneumonia, dan S pneumosia merupakan penyebab utama kejadia ISPA.

WHO menganjurkan bahwa calon jemaah usia lanjut atau risiko infeksi influenza tinggi disarankan untuk mendapatkan vaksinasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa insidens penyakit ini tinggi selama musim haji. Seiring dengan meningkatnya kasus flue burung terutama dari beberapa daerah di Indonesia maka pengamatan dan pengenalan yang ketat terhadap gejala dan masa inkubasi harus dilakukan dengan baik terutama di embarkasi.

3) Polio

Pemerintah Arab Saudi telah menyatakan bebas Polio sejak tahun 1995. Namun setelah terindentikasi kasus polio di Indonesia yang diduga dibawa dari Arab Saudi baik oleh Jemaah haji ataupun tenaga kerja wanita dari Arab Saudi, upaya lebih giat kini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit ini. Kasus polio dibawa oleh jemaah haji yang berasal dari negara yang belum bebas polio. Saat ini pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap pengunjung berusia kurang 15 tahun harus menunjukkan sertifikat vaksinasi polio.

4) Diare

Penyakit ini kerap menyerang jemaah haji Indonesia. Tahun lalu dua kloter embarkasi Solo melaporkan kejadian luar biasa diare saat mau mendarat di debarkasi Solo. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan dan tingkat pengetahuan. Kebiasaan makan jajanan yang tidak terkontrol dan menyimpan makanan terlalu lama merupakan faktor risiko yang meningkatkan kejadian penyakit di atas.

5) Infeksi Melalui Cairan Tubuh

Penyakit yang kerap terjadi melalui cairan tubuh adalah penyakit hepatitis B, C dan HIV. Di Mekkah potensi penularan ini dapat terjadi karena jemaah haji banyak berasal dari daerah yang endemis hepatitis. Cara penularan yang mudah dapat terjadi melalui cukur rambut yang tidak bersih yang dilakukan selama menunaikan ibadah haji.

6) Penyakit Lain Jamaah Haji:

a) Radang Tenggorokan (Pharingitis)

· Penyebab: Bakteri Virus

· Penularan: Melalui udara. pernapasan.

b) Radang Cabang Tenggorokan (Bronchitis)

· Penyebab: Bakteri Virus

· Penularan: Melalui percikan dahak batuk, udara.

c) Radang Paru-paru (Pneumonia)

· Penyebab: Basil atau Virus

· Penularan: Melalui udara pernapasan, percikan ludah.

d) Desentri

· Penyebab: Basil, Amuba

· Penularan: Melalui makanan/minuman yang tercemar kuman.

e) Kholera

· Penyebab: Vibrio kholera

· Penularan: Melalui makanan/minuman

f) Typhus

· Penyebab: Basil Typhus

· Penularan: Melalui makanan/minuman.

B. Penyakit Kronis

Perjalanan jauh dengan kondisi menderita penyakit kronis atau risiko tinggi harus memperhatikan tidak hanya ketersediaan obat yang selama ini digunakan, tetapi juga kesanggupan kegiatan fisik yang dikerjakan. Data kematian haji tahun 2007 menunjukkan bahwa sebagai besar kematian terjadi oleh karena penyakit kronis yang berhubungan dengan peningkatan aktifitas fisik, seperti penyakit jantung dan obstruksi paru kronis. Risiko meninggal pada kelompok umur di atas 70 tahun meningkat secara tajam (hampir 10 kali kelompok usia 50-60 tahun). Kematian yang terjadi di luar sarana pelayanan kesehatan cukup tinggi. Hampir 40% jemaah yang meninggal berada di luar sarana pelayanan kesehatan.

Selain itu, penyakit yang sering diderita jamaah haji: Sengatan Panas (Heat Stroke). Penyakit ini disebabkan oleh:

a) Penumpukan panas yang berlebihan di dalam badan.

b) Suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, dengan kelembaban udara rendah, maka penguapan keringat sangat besar, diikuti timbulnya panas tubuh.

c) Jamaah terlalu lelah atau terkena sinar matahari secara langsung.

Jenis penyakit sengatan panas:

a) Heat Exhaustion (Lelah Panas)
Gejalanya sama dengan gejala dehidrasi (kekurangan zat cair ringan): Kulit kering , haus dan pusing, lelah, mual, serta nafsu makan menurun.

b) Heat Cramp (Kejang Panas)

Tingkat lebih lanjut dari Heat Exhaustion, gejalanya: Suhu badan naik (sampai 38 – 39’ C), Kejang otot (otot extremilasi otot betis)

c) Heat Stroke

Stadium ketiga dari sengatan panas merupakan keadaan gawat namun reversible, dengan gejala:

· Hyperpirexia (suhu rectal 40’ atau lebih)

· Kulit kering, kadang-kadang berkeringat

· Berbicara tidak menentu (mengigau)

· Kesadaran bisa menurun hingga koma

Cara menghindari Sengatan Panas :

a) Tidak berada diterik matahari langsung, antara pukul 10.00 s/d 16.00

b) Keluar kemah/rumah terutama pada siang hari, harus memakai payung dan berbekal minuman

c) Minum setiap hari paling sedikit 5 – 6 liter atau 1 gelas setiap jam. Jangan menunggu sampai haus

d) Jangan menahan buang hajat besar atau kecil

e) Usahakan kondisi badan tetap segar, cukup istirahat dan tidur 6 – 8 jam sehari semalam

f) Pakailah pakaian yang agak longgar dan sedapat mungkin berwarna putih

g) Makanlah buah-buahan segar, seperti jeruk, apel, pier dsb.


4. Pengaruh Lingkungan Penerbangan Terhadap Faal Tubuh

a. Pengaruh ketinggian pada faal tubuh:

Pada dasarnya lapisan udara makin keatas makin renggang dan makin rendah tekanannya dan makin kecil pula tekanan parsiil 02 nya. Manusia dapat hidup pada tekanan 760 mmhg, pada suhu tropis 20 – 30 C dan kebutuhan total udara kering sebesar 20,9 %, sedangkan tekanan udara parsiil 02 sebesar 159 mmhg, sedang udara dalam alveoli sebesar 40 mmhg dan saturasi sebesar 98 %.

a). Hipoksia: Prinsip hukum diffusi gas dari tekanan tinggi ke rendah. Dimana jaringan tubuh kekurangan 02.

b). Disbarisma: Semua kelainan yang terjadi akibat perubahan tekanan kecuali hipoksia. Problema trapped gas adalah rongga-rongga yang terdapat dalam tubuh kita seperti saluran pencernaan, disana udara akan mengembang dan menimbulkan rasa mual sampai sesak begitu juga bila terjadi pada telinga tengah. Problema evolved gas, terjadi pada ketinggian tertentu yang larut dalam cairan tubuh atau lemak. Mulai pada ketinggian 25.000 kaki gelembung gas N2 yang lepas mulai menunjukan gejala klinis gatal atau kesemutan, rasa tercekik sampai terjadi kelumpuhan. Untuk mencegahnya perlu dilakukan denitroenisasi dengan 100 % 02 dan lamanya tergantung pada ketinggian yang hendak dicapai dan berapa lama di ketinggian tersebut.

c). Pengaruh kecepatan dan percepatan terhadap faal tubuh: Akibat kecepatan dan percepatan yang tinggi mempunyai efek terhadap faal tubuh.

5. Beberapa Masalah Kedokteran Pada Penerbangan Jarak Jauh

1) Motion sicknes bukanlah merupakan suatu penyakit, namun respon normal terhadap gerakan-gerakan dan situasi yang tidak biasa dijumpai dengan gejala mual, keringat dingin, pusing, alergi, dan muntah. Wanita lebih berisiko dari pria. Untuk mencegahnya jangan melakukan perjalanan dalam keadaan perut kosong. Bila mual usahakan kepala tetap tegak. Jangan membaca menunduk, usahakan pandangan lurus kedepan. Sedang obat-obat dapat menggunakan dramamine, antihistamin lainnya.

2) Nyeri sinus- telinga dan gigi. Volume udara dalam telinga tengah dan sinus akan mengembang sekitar 25 % pada tekanan 5000 – 8000 kaki. Bila saluran yang menghubungkan antara rongga-rongga tersebut dengan hidung baik maka tidak akan menimbulkan keluhan. Nyeri pada gigi biasanya akibat gangren atau pulpitis.

3) Pada manusia usia lanjut banyak mengalami perubahan fisik & psikologis yang perlu penanganan khusus supaya keamanan & kenyamanan mereka dapat dijaga selama penerbangan. Perubahan fisik tersebut meliputi: berkurangnya kemampuan bergerak, keseimbangan, gangguan sensoris, gangguan pendengaran, berkurangnya sensoris perasa, tajam penglihatan yang berkurang, banyaknya keluhan pada jaringan lunak gigi geligi, meningkatnya angka kejadian penyakit jantung & paru. Perubahan Psikologis yang sering terjadi adalah depresi yang mengakibatkan Sindroma Takut Terbang.

Penerbangan haji akan terasa nyaman dan tidak menjadi masalah bagi mereka yang sering bepergian dengan pesawat terbang. Akan tetapi, bagi mereka yang belum pernah naik pesawat terbang atau bahkan kereta api sekalipun, penerbangan haji yang berlangsung sekitar 8 – 10 jam dari tanah air hingga Arab Saudi dapat menimbulkan beberapa kesulitan atau perasaan tidak nyaman terutama pada jemaah haji Indonesia yang sebagian besar termasuk LANSIA.

6. Pengaruh Kelembaban, Udara Kering, udara dingin dan Dehidrasi

Kelembaban (hunmiditas):

Berbeda dengan udara lembab yang terdapat di kota-kota dekat pantai, misalnya Medan, Jakarta dan Makassar yang derajat kelembabannya (humiditas) 80–95%, udara di dalam kabin penumpang ternyata lebih kering. Kondisi udara di dalam kabin bertekanan pada tempat penumpang berada, yang setara dengan kondisi udara pada ketinggian 5000–8000 kaki, kelembaban (humiditas)-nya adalah 40–50%.

Udara kering:

Kelembaban yang rendah atau udara kering akan memudahkan penguapan dari keringat melalui pori-pori kulit tubuh sehingga tanpa disadari ternyata tubuh telah kehilangan banyak cairan tubuh, hal ini akan lebih berbahaya bila terjadi pada Lansia. Penguapan keringat: Kehilangan keringat di lingkungan udara yang kering tidak disadari sehingga dapat mengancam kesehatan tubuh. Apalagi bila disertai jumlah urine yang bertambah banyak akibat udara yang dingin, akan sangat berbahaya pada kondisi fisik dan fisiologi tubuh jemaah haji Lansia.

Udara dingin:

Udara dingin atau sejuk selama penerbangan sekitar 8–10 jam akan merangsang otak mengeluarkan hormon yang meningkatkan produksi air seni (urine). Hal ini akan menyebabkan kandung kemih cepat penuh yang merangsang pengeluaran urine sehingga ingin berkali-kali ke kamar kecil (toilet).

Dehidrasi:

Penguapan keringat disertai pengeluaran urine yang berlebihan, apalagi jika tidak diimbangi dengan minum secukupnya maka akan terjadi dehidrasi. Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh calon jemaah haji (penumpang) kehilangan dan kekurangan cairan (yang diikuti pula dengan kehilangan dan berkurangnya garam tubuh). Adapun gejalanya adalah otot pegal, haus dan lain-lain. Menanggulanginya adalah dengan minum secukupnya, menghabiskan makanan yang dihidangakan oleh pramugari dan memakai krim kulit atau salep vaseline.

Selain itu, kemungkinan penyakit lain yang timbul:

1. Pembesaran prostat

Pada beberapa lanjut usia (lansia) yang menderita pembesaran (hipertrofi) kelenjar prostat akan mengalami hambatan pada saluran urine sehingga tidak dapat berkemih. Untuk menolong penderita tersebut perlu dilakukan pemasangan kateter.

2. Anemia hipoksia

Yaitu sel darah kekurangan zat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Kita ketahui hemoglobin berfungsi untuk mengangkut oksigen. Hipoksia ini dapat dialami oleh penderita anemia. Calon jemaah haji Lansia sebagian besar menderita penyakit anemia. Penderita anemia sebagian besar dari kalangan petani dan nelayan yang status gizinya kurang baik.

3. Kelelahan

Adalah suatu keadaan dimana efisiensi kerja menurun secara progresif disertai perasaan tidak enak badan, penurunan daya tahan tubuh, dan efisiensi jasmani dan daya berpikir. Penyebab kelelahan: Persiapan dan perjalanan dari kampung halaman menuju ke asrama haji, menunggu keberangkatan lalu tiba di bandar udara, selanjutnya menunggu lagi, lalu duduk di kursi penumpang pesawat terbang haji selama lebih dari 8 jam penerbangan, semua itu menyebabkan kelelahan. Vibrasi atau getaran serta bising (noise) yang ditimbulkan oleh empat buah mesin jet pesawat terbang, walaupun kadarnya ringan, ikut menambah beban yang menghasilkan kelelahan serta mengganggu nafsu makan serta nyenyaknya tidur penumpang. Seharusnya, waktu selama dalam penerbangan tersebut dimanfaatkan untuk tidur supaya menghilangkan kelelahan.

Lokasi dan gejala:

Kelelahan dapat terjadi lokal (lelah sebagian tubuh seperti lengan, tungkai dan lain-lain) dan umum (lelah seluruh tubuh). Gejala atau tanda-tanda lelah yang biasa ditemukan ialah pegal-pegal (sendi dan otot) dan tanda-tanda mental yaitu gugup, mudah tersinggung (pemarah), sukar berpikir, sukar tidur, sakit kepala, waktu untuk bereaksi lebih lambat, pelupa, kurang teliti, kondisi menurun, daya memutuskan pendapat (judgement) mulai terganggu, mata lelah, gangguan saluran penecernaan, nafsu makan menurun, dan lainlain.

Pencegahan:

Upaya pencegahan dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi faktor-faktor penyebab kelelahan (meliputi factor kejiwaan, fisik dan faal tubuh), antara lain dengan tidur yang cukup, yaitu sekitar 8 jam sehari/semalam, menggunakan masa istirahat sebaik-baiknya, makan sesuai ketentuan gizi kesehatan (cukup jumlah dan gizi, bersih, tidak terlalu merangsang/pedas, dan lain-lain), dan menghindari pekerjaaan yang melelahkan.

4. Aerotitis atau barotitis.

Rasa sakit atau gangguan pada organ telinga bagian tengah yang timbul sebagai akibat adanya perubahan tekanan udara sekitar tubuh disebut aerotitis/barotitis. Barotitis dapat terjadi baik pada waktu naik (ascend) maupun turun (descend). Hanya saja pada waktu menurun, presentase kemungkinan terjadinya lebih besar daripada waktu naik. Hal ini disebabkan sifat atau bentuk tuba Eustachius yang lebih mudah mengeluarkan udara dari bagian telinga ke tenggorokan daripada sebaliknya. Hal akan sangat berbahaya pada penumpang Lansia yang yang pengetahuannya kurang dan fungsi faal tubuh sudah berkurang, bahkan dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga.

7. Persiapan Menjelang Keberangkatan

Dengan memperhatikan hasil pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter rumah sakit atau puskesmas, calon haji dapat mengetahui apakah ia menderita penyakit tertentu yang dapat menjadi masalah dalam penerbangan. Penyakit-penyakit tersebut antara lain tekanan darah tinggi (hipertensi), kencing manis (diabetes melitus), penyakit jantung, batuk dan sesak nafas (asma paru, bronkhitis, TBC atau sakit jantung, penyakit liver, pembesaran kelenjar prostat, gigi berluang atau gangren, penyakit remautik, lumpuk akibat stroke, sakit maag (ulu hati, gastritis) ambeien (wasir, hemorrhoid), penyakit tekanan bola mata tinggi (glaukoma), hamil dan lain-lain. Pada derajat ringan yang ringan, penderita salah satu penyakit tersebut, terkadang masih diluluskan.

Mewaspadai darurat jantung pada penerbangan haji terutama Lansia Penyakit jantung adalah salah satu penyakit yang rawan terhadap berbagai tekanan situasi selama kegiatan ibadah haji, termasuk dampak penerbangan haji yang cukup panjang. Terdapat jenis penyakit jantung yang digolongkan sebagai kelompok penyakit berisiko tinggi (risti) atau high risk disease adalah penyakit jantung koroner (PJK). Oleh karena lebih dari 60% yang menunaikan ibadah haji berusia 45 tahun keatas, maka akan sangat mungkin mewaspadai penyakit jantung koroner.

Waspadai Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah fenonema berkurangnya atau terhentinya aliran udara pernafasan yang terjadi saat tidur akibat radius saluran pernafasan yang menyempit atau obstruksi dari saluran pernafasan. ASA mempunyai peran sebagai penyebab kematian hipertensi, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, serta penyebab kematian mendadak (sudden death). OSA sangat penting diperhatikan mengingat penerbangan haji adalah penerbangan jarak jauh, mengingat risiko mati mendadak dan kecelakan yang disebabkannya.

Sakit Kepala Pada Penerbangan Haji juga perlu diwaspadai. Setiap tahun jemaah haji Indonesia berjumlah lebih dari 200 ribu orang, dimana lebih dari 40% termasuk usia lanjut (Lansia). Walaupun para jemaah haji sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat dan lengkap, namun tidak jarang dalam perjalanan penerbangan timbul gangguan, keluhan yang dirasakan tidak nyaman, salah satu keluhan itu adalah pusing bahkan sampai sakit kepala, dari ringan sampai berat.

Tips yang perlu diperhatikan:

1. Sebelum melakukan perialanan

Pastikan berangkat dalam keadaan rileks, bebas dari beban fisik,dan psikis dan tidak dalam keadaan sakit. Persiapkan segala keperluan jauh-jauh hari. Usahakan meminimalkan transit, tidur lebih awal, agar tetap ketika berangkat.

2. Selama dalam perjalanan

Begitu naik pesawat, ubah waktu jam tangan anda sesuai dengan waktu Negara tujuan, perbanyak minum air putih dan sari buah, tidur selama perjalanan dilakukan hanya waktu di tempat tujuan menyatakan demikian (malam), lakukan gerakan peregangan dan relaksasi otot-otot tubuh baik di tempat duduk maupun pada saat transit, lakukan sesekali jalan-jalan di dalam kabin, hindari minum kopi, alkohol & orange.

3. Di tempat tuiuan

Yang paling penting pertama kali dilakukan adalah melakukan aktifitas seperti yang biasa dengan menyesuaikan jam di tempat yang baru, termasuk waktu makan dan tidur.

Sumber:

Depkes RI. 2008. “Bahan Bacaan Peserta TKHI”. Dalam http://www.lrckesehatan.net. /PDF/TKHI/.24 Oktober 2009. 11:30:20 WIB.

Rachmad, Edy. 2009. “Pembinaan Kesehatan jamaah Haji”. Dalam http://waspadamedan.com/index.php?option=com. 29 Oktober 2009. 10:30:10 WIB.

“Waspadai Gangguan Penyakit Akibat Perubahan cuaca”. Dalam http://www.kjrijeddah.org.sa/haji/.html. 29 Oktober 2009. 09:10:15 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: