Dewi Oktavia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

AZZam

Gizi Buruk

  1. A. Masalah Gizi Buruk

    1. a. Definisi gizi buruk

Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia. Gizi buruk tidak hanya meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian tetapi juga menurunkan produktifitas, menghambat pertumbuhan sel-sel otak yang mengakibatkan kebodohan dan keterbelakangan.

Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks

berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) <-3 SD dan atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.

a)      Marasmus adalah keadaan gizi buruk yang ditandai dengan tampak sangat kurus, iga gambang, perut cekung, wajah seperti orang tua dan kulit keriput

b)      Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang ditandai dengan edema seluruh tubuh terutama di punggung kaki, wajah membulat dan sembab, perut buncit, otot mengecil, pandangan mata sayu dan rambut tipis/kemerahan.

c)      Marasmus-Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk dengan tanda-tanda gabungan dari marasmus dan kwashiorkor

  1. b. Faktor Penyebab Gizi Buruk

Ada 2 penyebab yang menimbulkan gizi buruk, antara lain:

1.  Penyebab tak  langsung

Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit penyakit infeksi, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit.

2.  Penyebab langsung

Penyebab tidak langsung : Terdapat tiga penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu :

a)      Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.

b)      Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.

c)      Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.

Sedangkan faktor-faktor lain selain faktor kesehatan, tetapi juga merupakan Masalah Utama Gizi buruk adalah Kemiskinan, Pendidikan rendah, Ketersediaan pangan dan kesempatan kerja. Oleh karena itu, untuk mengastasi gizi buruk dibutuhkan kerjasama lintas sektor.

  1. c. Gejala dan Tanda Gizi Buruk

Ada 3 macam tipe Gizi buruk, yaitu :

a)      Tipe Kwashiorkor, dengan  tanda-tanda dan gejala adalah sebagai berikut:

  1. Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh.
  2. Perubahan Status mental
  3. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut  tanpa rasa sakit, rontok
  4. Wajah membulat dan sembab
  5. Pandangan mata sayu
  6. Pembesaran hati
  7. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas

b)      Tipe Marasmus, dengan tanda-tanda dan gejala sebagai berikut:

  1. Tampak sangat kurus
  2. Wajah seperti orang tua
  3. Cengeng, rewel
  4. Kulit keriput
  5. Perut cekung

c) Tipe, Marasmik-Kwashiorkor

Merupakan gabungan beberapa gejala klinik Kwashiorkor – Marasmus

  1. d. Penyakit Penyerta / Penyulit pada Anak Gizi Buruk

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, anak yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya status gizi anak. Penyakit-penyakit tersebut adalah:

a) ISPA

b) Diare persisten

c) Cacingan

d) Tuberkulosis

e) Malaria

f)        HIV / AIDS

  1. B. Epidemiologi Masalah Gizi Buruk di Indonesia

Berdasarkan perkembangan masalah gizi, pada tahun 2005 diperkirakan sekitar 5 juta anak menderita gizi kurang (berat badan menurut umur), 1,5 juta diantaranya menderita gizi buruk. Dari anak yang mmenderita gizi buruk tersebut ada 150.000 menderita gizi buruk tingkat berat yang disebut marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor, yang memerlukan perawatan kesehatan yang intensif di Puskesmas dan Rumah Sakit. Masalah gizi kurang dan gizi buruk terjadi hampir di semua Kabupaten dan Kota. Pada saat ini masih terdapat 110 Kabupaten/Kota dari 440 Kabupaten/Kota di Indonesia yang mempunyai prevalensi di atas 30% (berat badan menurut umur). Menurut WHO keadaan ini masih tergolong sangat tinggi.

Berdasarkan hasil surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2005, total kasus gizi buruk sebanyak 75.671 balita. Kasus gizi buruk yang dilaporkan menurun setiap bulan. Semua anak gizi buruk mendapatkan penanganan berupa: perawatan di Puskesmas dan di Rumah Sakit serta dilakukan tindak lanjut paska perawatan berupa rawat jalan, dan melalui posyandu untuk dipantau kenaikan berat badan dan mendapatkan makanan tambahan.

Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal dunia dilaporkan dari bulan Januari 2005 sampai Desember 2005 adalah 286 balita (Grafik 1). Kasus gizi buruk yang meninggal tersebut pada umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti ISPA, diare, TB, campak dan malaria. Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal tertinggi terjadi pada bulan Juni sebanyak 107 kasus, selanjutnya pada bulan-bulan berikutnya kasus gizi buruk yang meninggal cenderung menurun, bahkan pada bulan Nopember tidak ada laporan kasus gizi buruk yang meninggal dunia. Namun demikian pada bulan Desember 2005 terjadi peningkatan kasus gizi buruk yang meninggal dunia sebanyak 54 kasus yang merupakan laporan dari 7 propinsi yaitu dari Jatim 14 kasus, Sulsel 13 kasus, Gorontalo 13 kasus, NTT 6 kasus, Lampung 4 kasus, Sulteng 2 kasus, serta Maluku dan Malut masing-masing 1 kasus.

Terbebas dari kelaparan dan malnutrisi sekaligus mendapat nutrisi yang baik adalah hak asasi manusia. Malnutrisi membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit dan kematian dini. Pengukuran antropometri untuk mendapatkan status gizi seseorang telah dikenal luas dan terutama dilakukan pada anak-anak. Rendahnya persentase berat badan terhadap usia mencerminkan akibat kumulatif dan malnutrisi yang berkepanjangan atau kekurangan nutrisi sejak lahir.

Indonesia mempunyai masalah gizi yang besar ditandai dengan masih besarnya prevalensi gizi kurang pada anak balita, Kurang Vitamin A (KVA), Anemia kurang zat besi dan Kurang Yodium. Prevalensi gizi kurang pada periode 1989-1999 menurun dari 29.5% menjadi 27.5% atau rata-rata terjadi penurunan 0.40% per tahun, namun pada periode 2000-2005 terjadi peningkatan prevalensi gizi kurang dari 24.6% menjadi 28.0% Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan propinsi selama tahun 2005 terdapat 76.178 balita mengalami gizi buruk dan data Susenas tahun 2005 memperlihatkan prevalensi balita gizi buruk sebesar 8.8%. Pada tahun 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kasus gizi buruk di beberapa propinsi dan yang tertinggi terjadi di dua propinsi yaitu Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pada tanggal 31 Mei 2005, Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur telah menetapkan masalah gizi buruk yang terjadi di NTT sebagai KLB, dan Menteri Kesehatan.

Sumber: Susenas, 2003

Dari tabel di atas tergambar bahwa distribusi kabupaten /kota berdasarkan prevalensi sangat tinggi gizi kurang dan gizi buruk (bb/u) berdasarkan data dari susenas 2003 adalah Provinsi NTT dan Sulsel.

Sumber: Laporan Dinas Kesehatan perPropinsi

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Distribusi kasus gizi buruk per Provinsi Berdasarkan Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Januari-Desember tahun 2005, Jumlah kasus gizi buruk yang dilaporkan tertinggi di Provinsi Jawa Barat sebesar 18095 kasus, dan Jumlah kasus meninggal terbanyak adalah Provinsi Jawa Tengah yaitu 94 orang.

  1. C. Penanggulangan Masalah Gizi Buruk Dengan Upaya Peningkatan Pelayanan Kesehatan

Penanganan gizi buruk yang paling krusial dan perlu mendapat perhatian serius adalah penanganan bayi umur 1-2 tahun mengingat pada masa inilah pertumbuhan otak dan nutrisi asupan makanan yang cukup. Untuk inilah diperlukan koordinasi dan sinkronisasi penanganan pasien antara dinas kesehatan dan rumah sakit dan dalam penanganan gizi buruk ini. Berkaitan dengan hal ini Pemerintah menitik beratkan prioritas pada program peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat yang ditujukan bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Indikator pencapaian sasaran ini adalah meningkatnya angka harapan hidup, menurunnya jumlah Angka Kematian Bayi (AKB), menurunnya jumlah Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI), menurunnya angka kasus gizi buruk, meningkatnya cakupan pelayanan air bersih dan sanitasi.

Contoh upaya dan pencegahan penaggulangan gizi buruk di Provinsi NTB dan NTT:

Upaya pencegahan dan penanggulangan gizi buruk di Provinsi NTB dan NTT

Provinsi NTB:

a)      Membentuk tim operasi sadar gizi (OSG) yang bertanggung jawab dalam keseluruhan proses pencegahan dan penanggulangan gizi buruk berdasarkan instruksi Gubernur Nomor 1 tahun 2005.

b)      Perawatan gizi buruk melalui Puskesmas perawatan dan Rumah Sakit dikelas 3 gratis.

c)      Melakukan operasi sadar gizi yang mencakup deteksi dini penemuan

d)      kasus melalui operasi timbang dengan mengukur balita di seluruh propinsi NTB, membuat mapping gizi buruk.

e)      Puskesmas melakukan tindak lanjut kasus gizi buruk yang tidak memerlukan perawatan dan mendapatkan makanan tambahan.

f)        Memberikan bantuan pangan darurat bagi keluarga miskin

g)      Memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan melalui Posyandu, Tokoh Agama (Tuan Guru), Perkumpulan Keagamaan dan kelompok potensial lainnya.

Propinsi NTT

a)      Melaksanakan sistem kewaspadaan dini secara intensif

b)      Pelacakan kasus dan penemuan kasus baru.

c)      Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan Puskesmas dan diRumah Sakit gratis

d)      Koordinasi penggerakan sumber dana

e)      Memberikan bantuan beras dan memberikan makanan pendamping ASI, dan makanan tambahan.

Secara Nasional upaya pencegahan gizi buruk dibagi dalam 3 tahap yaitu:

a. Jangka Pendek untuk Tanggap Darurat

a)      Menerapkan prosedur tatalaksana penanggulangan gizi buruk yaitu :

b)      Melaksanakan sistem kewaspadaan dini secara intensif

c)      Pelacakan kasus dan penemuan kasus baru.

d)      Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan Puskesmas dan diRumah Sakit

e)      Melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan koordinasi lintas program dan lintas sektor. Memberikan bantuan pangan, memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), pengobatan penyakit, penyediaan air bersih, memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan terutama peningkatan ASI Eksklusif sejak lahir sampai 6 bulan dan diberikan Makanan Pendamping ASI setelah usia 6 bulan, menyusui diteruskan sampai usia 2 tahun .

b. Rencana Jangka Menengah:

Penyusunan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005 –2009  :

a)      Revitalisasi Posyandu yang mencakup pelatihan ulang kader, penyediaan sarana, pembinaan dan pendampingan kader, penyediaan modal usaha kader melalui usaha kecil menengah (UKM) dan mendorong partisipasi swasta serta bantuan biaya operasional.

b)      Revitalisasi puskesmas dengan mengaktifkan kegiatan preventif dan promotif, meningkatkan manajemen program gizi, sarana dan bantuan biaya operasional untuk kegiatan pembinaan posyandu, pelacakan kasus, dan kerjasama lintas sektor.

c)      Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan termasuk tata laksana gizi buruk bagi petugas rumah sakit dan puskesmas perawatan

d)      Pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi, pendidikan dan bidang ketahanan pangan untuk meningkatkan pengetahuan dan daya beli keluarga.

e)      Advokasi dan Pendampingan untuk meningkatkan komitmen ekskutif dan legislatif, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan media massa agar peduli dan bertindak nyata di lingkungannya untuk memperbaiki status gizi anak.

f)        Revitalisasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) pemantauan terus menerus situasi pangan dan gizi masyarakat, untuk melakukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah timbulnyabahaya rawan pangan dan gizi buruk.

c. Rencana Jangka Panjang :

a)      Mengintegrasikan program perbaikan gizi dan ketahanan pangan ke dalam program penanggulangan kemiskinan

b)      Meningkatkan daya beli masyarakat

c)      Meningkatkan pendidikan terutama pendidikan wanita

d)       Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi, yaitu

  • Menimbang berat badan secara teratur Makan beraneka ragam setiap hari
  • Hanya memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan, memberikan MPASI setelah usia 6 bulan , menyusui diteruskan sampai usia 2 tahun.
  • Menggunakan garam beryodium
  • Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A, tablet Fe) kepada anggota keluarga yang memerlukan.

Pemecahan masalah Gizi.

Masalah Gizi buruk, tidak dapat diselesaikan sendiri oleh sektor kesehatan. Gizi Buruk merupakan dampak dari berbagai macam penyebab. Seperti rendahnya tingkat pendidikan, kemiskinan, ketersediaan pangan, transportasi, adat istiadat (sosial budaya), dan sebagainya. Oleh karena itu, pemecahannyapun harus secara komprehensif.

Strategi Departemen Kesehatan untuk penanganan Gizi Buruk:

a)      Menggerakan dan memberdayakan Masyarakat untuk hidup Sehat

b)      Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas

c)      Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan

d)      Meningkatkan pembiayaan kesehatan

Langkah-langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi untuk mengatasi masalah Gizi Buruk:

a)      Pertemuan dan Pelatihan Penatalaksanaan Gizi buruk untuk puskesmas

b)      Pelatihan Surveilans Gizi

c)      Pemberian MP ASI baik berupa bubur maupun biskuit untuk bayi dan balita terutama untuk keluarga miskin ( Berasal dari dana APBN )

d)      Pemberian susu kepada bayi dan balita untuk Kabupaten/Kota ( APBD )

e)      Tahun ini (2009), lewat dana BANSOS, dilaksanakan pelacakan Gizi buruk di Kabupaten/Kota.

Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat harus melibatakan semua pihak yang terkait baik pemerintah, wakil rakyat, swasta, unsur perguruan tinggi dan lain-lain. Indonesia mengalami beban ganda masalah gizi yaitu masih banyak masyarakat yang kekurangan gizi, tapi di sisi lain terjadi gizi lebih. Kabupaten Kota daerah membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, misalnya kebijakan yang mempunyai filosofi yang baik “menolong bayi dan keluarga miskin agar tidak kekurangan gizi dengan memberikan Makanan Pendamping (MP) ASI (Hadi, 2005).

Sedangkan alternatif solusi lainnya yang dapat dilakukan antra lain (Azwar, 2004).

  1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait.
  2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat, sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan.
  3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian ‘best practice’ (efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan publik.
  4. Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan.
  5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi, misalnya kesehatan, pertanian, pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
  6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta, LSM dan masyarakat.

Daftar Pustaka

Arifin, Munif. 2009. Gizi Buruk. “Permasalahan Gizi Masyarakat” http://www.malukuprov.go.id. 30 Januari 2010. 17:30:20 WIB.

Arifin, Munif. 2009. “Permasalahan Gizi Masyarakat” dalam http://indonesianpublichealth.blogspot.com. 30 Januari 2010. 20:16:19 WIB

Depkes RI, 2008. “Sistem kewaspadaan dini (skd) Klb-gizi buruk” dalam http://www.gizi.net. 30 Januari 2010. 19:20:15 WIB

2008.“Pelayanan kesehatan” dalam http://www.lrc-kmpk.ugm.ac.id. 30 Januari 2010. 20:10:15 WIB

Artikel Pneumonia (studi literatur)

ABSTRAK

Penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Dari seluruh kematian kematian balita, proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30%. Kematian ISPA ini sebagian besar ialah oleh karena pneumonia. Menurut Sectish (2004), pneumonia adalah suatu peradangan pada parenkim paru. Pada artikel ini akan dibahas mengenai penyakit pneumonia pada balita yang mencakup tentang definisi, permasalahan pneumonia balita  di Indonesia, epidemiologi pneumonia, klasifikasi pneumonia, gejala, penyebab, faktor risiko pneumonia , dan upaya pencegahannya. Metode yang digunakan dalam membuat artikel ini adalah dengan menggunakan studi literatur.

ABSTRACT

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama di Indonesia. Peranannya dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat cukup besar karena sampai saat ini penyakit infeksi masih termasuk ke dalam salah satu penyebab yang mendorong tetap tingginya angka kesakitan dan angka kematian di tanah air. Salah satu penyakit yang diderita masyarakat adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan pada balita di negara berkembang termasuk Indonesia.(1)

Di Indonesia, pneumonia menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan TBC. Dari seluruh kematian kematian balita, proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30%. Kematian ISPA ini sebagian besar ialah oleh karena pneumonia. Menurut laporan WHO sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat pneumonia.(2)

Blum mengatakan masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri, demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tapi juga dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah ”sehat-sakit”. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. (3)

Pneumonia merupakan penyakit yang terjadi pada balita yang dipengaruhi oleh faktor: gizi, mekanisme pertahan tubuh, bibit penyakit, dan lingkungan yang menguntungkan sebagai tempat perkembangan bibit penyakit dan juga udara sebagai perantara dengan kualitas dan kuantitas tertentu.(2)

Meskipun penyakit pneumonia sudah ada  program dari Departemen Kesehatan untuk penanggulangannya yaitu Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut,  namun kondisi penyakit ini masih menjadi tantangan serius bagi dunia kesehatan. Pencegahan terhadap penyakit ini juga diharapkan dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai penyakit Pneumonia pada Balita agar dapat mencegah timbulnya penyakit tersebut terutama pada balita.

DEFINISI

Menurut Sectish (2004), pneumonia adalah suatu peradangan pada parenkim paru. (5). Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Dalam pelaksanaan pemberantasan penyakit ISPA semua bentuk pneumonia disebut juga pneumonia saja.(4)

Permasalahan Pneumonia Balita  di Indonesia

Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di Indonesia yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita. Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah dalam menaggulangi angkan kesakitan dan kematian akibat pneumonia ini. Namun belum mencapai target yang diharapkan. (5)

EPIDEMIOLOGI

Di seluruh dunia setiap tahun diperkirakan terjadi lebih 2 juta kematian balita karena pneumonia. Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia menurut Survey Kesehatan rumah Tangga tahun 2001 kematian balita akibat pneumonia adalah 5 per 1000 balita per tahun.(3). Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya.(6)

Pada umumnya pneumonia disebabkan oleh pneumokokus. Di negara dengan empat musim, pneumonia mencapi puncaknya pada musim dingin dan awal musim semi, sedangkan kejadian pneumonia di Indonesia sering terjadi pada musim hujan. Insiden pneumonia lebih banyak ditemukan pada usia empat tahun ke bawah, yang kemudian berkurang dengan meningkatnya umur. Angka karier tipe patogen tersebut tinggi di dalam suatu kondisi lingkungan yang padat seperti rumah yatim piatu, taman kanak-kanak dan sekolah-sekolah. Bayi dan balita lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitasnya masih belum berkembang dengan baik, anatomi saluran pernafasan yang relatif senpit, malnutrisi, dan kegagalan mekanisme pertahan tubuh lainnya.(7)

Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh pneumokokus, ditemukan pada orang dewasa dan anak, sedangkan bronkopneumonia lebih sering ditemukan pada anak kecil dan bayi. Pada pneumonia bakteri sebagian besar agen yang umum merupakan inhibition normal (penghambat normal) dari saluran nafas bagian atas. Infeksi ini terjadi secara sporadik sepanjang tahun tetapi yang sering pada musim dingin dan semi, dengan laki-laki terkena dua kali lebih sering dari perempuan.(7)

KLASIFIKASI PNEUMONIA

Berdasarkan Pedoman Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita Depkes 2002 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dapat diklasifikasi sebagai berikut: (8)

  1. Pneumonia berat

Pneumonia berat ini didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan- < 5 tahun. Untuk kelompok umur <2 bulan diagnosis Pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat (fast brehathing), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam.

  1. Pneumonia

Klasifikasi pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya napas sesuai umur. Batas napas cepat pada anak usia 2 bulan-<1 tahun adalah 50 kali per menit dan 40 kali per menit untuk anak usia 1-<5 tahun.

  1. Bukan pneumonia

Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi napas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.(8)

GEJALA
Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah: (10)

  1. Batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan atau seperti nanah)
  2. nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk)
  3. menggigil
  4. demam
  5. mudah merasa lelah
  6. sesak nafas
  7. sakit kepala
  8. nafsu makan berkurang
  9. mual dan muntah
  10. merasa tidak enak badan
  11. kekakuan sendi
  12. kekakuan otot.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

  1. kulit lembab
  2. batuk darah
  3. pernafasan yang cepat
  4. cemas, stres, tegang
  5. nyeri perut. (10)

PENYEBAB
Penyebab pneumonia adalah: (9)

1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa):

  1. Streptococcus pneumonia

Pneumonia yang disebabkan oleh Streptococcus pneumonia adalah bentuk infeksi bakteri paru yang paling sering memerlukan perawatan di rumah sakit, ia dapat terjadi pada setiap kelompok umur. Infeksi ditandai oleh kenaikan suhu yang sangat cepat dan batuk produktif sputum seperti karat besi. Penderita biasanya dispnea dan sering mengeluh nyeri dada pleuritis. Angka mortalitas untuk bentuk pneumonia ini tetap pada 15-20% walaupun tersedia terapi kuratif antibiotik.

  1. Mycoplasma pneumoniae

Infeksi paru yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae paling sering didiagnosis pada orang dewasa muda dan anak-anak. Pneumonia mikoplasma umumnya ringan, dengan gejala demam dan batuk. Penyakit ini mulanya perlahan-lahan dengan gejala nonspesifik seperti sakit kepala, malaise, dan demam.

  1. Legionella spesies

Legionella spesies adalah penyebab pneumonia yang relatif sering pada orang dewasa, menyebabkan infeksi paru dari sebagian besar penderita rumah sakit. Infeksi ini umumnya datang dengan kaku, demam, dan gejala saluran pernapasan, tetapi permulaannya agak kurang mendadak daripada pneumonia yang disebabkan oleh S. pneumonia.

  1. Haemophilus influenzae

Haemophilus influenzae adalah penyebab lazim infeksi saluran pernapasan bawah pada anak-anak, tetapi manifestasi paling dramatis epiglotis atau meningitidis.

2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air).

3. Jamur tertentu.

Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:

  1. Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar
  2. Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
  3. Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.(9)

Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri, yang tersering yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumococcus). Pneumonia pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae.(10)

Faktor Risiko Pneumonia

  1. 1. Faktor Anak
    1. Umur

Pneumonia dapat menyerang pada semua tingkat usia, terutama pada balita karena daya tahan tubuh balita lebih rentan daripada orang dewasa. Menurut Foster (1984), Faktor daya tahan tubuh turut berperan dalam kaitan antara umur dan infeksi saluran pernapasan. (11)

  1. Jenis kelamin

Menurut Sutrisna (1993), Pengaruh jenis kelamin pada kejadian pneumonia di Indramayu, yang merupakan study cohort selama 1,5 tahun didapatkan persentase yang lebih besar pada laki-laki (52,9%) dibandingkan perempuan. (5)

  1. Status Gizi

Status gizi merupakan salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan anak. Dalam keadaan keadaan gizi baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan tubuh terhadap penyakit infeksi. Jika keadaan gizi menjadi buruk, maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap penyakit infeksi. Hasil penelitian Sukarlan (2004), menunjukkan bahwa status gizi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian pneumonia balita.Intervensi potensial untuk mencegah pneumonia balita pada negara-negara berkembang di Amerika latin yaitu perbaikan gizi. (5)

  1. Status Imunisasi Campak

Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pneumonia dapat dicegah dengan adanya imunisasi campak dan pertusis. Penelitian Sutrisna di Indramayu, 1997 menunjukkan hubungan antara status imunisasi campak dan timbulnya kematian akibat pneumonia antara lain, anak-anak yang belum pernah menderita campak dan belum mendapat imunisasi campak mempunyai risiko meninggal yang lebih besar. (5)

  1. Berat Badan Lahir Rendah

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Bayi dengan BBLR dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas karena rentan terhadap penyakit infeksi. BBLR berisiko pada penurunan kecerdasan anak, pertumbuhan terlambat, imunitas rendah,  terkena hipoglikemia. Hipotermia, dan mengidap penyakit degeneratif saat dewasa.(12)

  1. faktor ibu
  1. Pendidikan Ibu dan Pengetahuan Ibu

Menurut Ware (1984) tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu juga berdampak besar dalam kejadian pneumonia balita. Tingginya morbiditas atau mortalitas bukan karena ibunya tidak sekolah, melainkan karena anak-anak tersebut mendapatkan makanan yang kurang memadai, ataupun terlambat dibawa ke pelayanan kesehatan. (5)

  1. Faktor Lingkungan
  1. Polusi Asap Rokok

Polusi udara menimbulkan masalah kesehatan di seluruh dunia serta paling sering dihubungkan dengan pabrik, industri, dan dengan udara luar. Tetapi sumber terbesar dari polusi udara yang berbahaya adalah asap rokok. Disamping itu, bahaya polusi udara di dalam terhadap kesehatan ternyata seringkali lebih buruk dibandingkan dengan polusi di luar, bahkan di sbuah kota industri sekalipun.(13)

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker. Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok juga mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak, dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Hal ini menyebabkan risiko lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah,  brochitis dan pneumonia, infeksi rongga telinga dan asma.pada janin, bayi, dan anak-anak.(3)

  1. Kepadatan Hunian Kamar

Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh hunian rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai 3 m2/orang dan untuk mencegah penularan penyakit pernapasan, maka jarak antara tempat tidur satu dengan tempat tidur lainnya minimum 90 cm. dalam hubungan dengan penyakit ISPA khususnya kejadian pneumonia pada balita, maka kepadatan hunian dapat menyebabkan infeksi silang. Dengan adanya penderita ISPA di suatu ruangan maka penularan penyakit melalui udara ataupun “droplet” akan  cepat terjadi. Pada saat batuk, agen penyebab penyakit keluar dalam bentik “droplet” dan akan terinspirasi ke udara yang selanjutnya masuk ke “host” baru melalui saluran pernapasan.(3)

  1. Kondisi Ekonomi

Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang sehat mendorong peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap serangan berbagai penyakit menular termasuk ISPA. Pada akhirnya akan mendorong meningkatnya penyakit ISPA dan Pneumonia pada Balita.(8)

PENCEGAHAN

Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2ISPA). Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangannya. (14)

Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia. Yaitu, usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Klasifikasi Bukan-pnemonia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain batuk-pilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis. (14)

Mengingat pengobatannya yang semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatkan resistensi bakteri pneumokokus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan. Pencegahan penyakit IPD (Invasive Pneumococcal Diseases) termasuk pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Menurut Atilla yang juga bertugas di klinik khusus tumbuh kembang anak RSAB Harapan kita, peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%. (14)

Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD, menurut penjelasan Atilla adalah sebanyak 4 kali, yakni pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usia 12 bulan. Vaksin itu aman dan dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti Hib, MMR maupun Hepatitis B. (14)

Selain imunisasi, para orang tua dapat melakukan pencegahan pneumonia pada balita dengan memperhatikan tips berikut: (6)

  1. Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat keramaian yang berpotensi penularan.
  2. Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA.
  3. Membiasakan pemberian ASI.
  4. Segera berobat jika mendapati anak mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk (retraksi).
  5. Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera ke rumah sakit jika kondisi anak memburuk.(6)

KESIMPULAN

  1. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).
  2. Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di Indonesia yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita.
  3. Secara epidemiologi, pneumonia umumnya banyak diderita oleh balita, disebabkan oleh pneumokokus, di Indonesia sering terjadi pada saat musim hujan, dan rentan terhadap kondisi lingkungan yang padat.
  4. Klasifikasi pneumonia dibedakan menjadi 3 macam yaitu pneumonia berat, pneumonia, dan bukan pneumonia.
  5. Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah batuk berdahak, nyeri dada, sesak nafas, dll.
  6. Penyebab  pneumonia yang paling sering memerlukan perawatan rumah sakit adalah pneumonia pneumokokus yang disebabkan oleh Streptococcus pneumonia.
  7. Faktor risiko pneumonia dapat dilihat dari faktor anak,  ibu, lingkungan, serta kondisi ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Rasmaliah. 2004.  “Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penanggulangannya” dalam http://library.usu.ac.id. 29 Januari 2010. 19:05:10 WIB.
  2. Supriyatno. 2003. ”Waspada Pneumonia pada Anak” dalam www.kesonline.com. 29 Januari 2010. 19:25:15 WIB
  3. Notoatmodjo S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
  4. Depkes RI. 2002. Surve Kesehatan Nasional 2001. Laporan Studi mortalitas 2001. Badan Litbangkes, Jakarta.
  5. Machmud R. 2006. Pnneumonia Balita di Indonesia dan Peranan Kabupaten dalam Penanggulangannya. Padang: Andalas University Press
  6. 6. 2007. “Waspada Pneumonia, bukan sekedar Panas Batuk Pilek” dalam  http://cakmoki86.wordpress.com. 10 Januari 2010. 13:10:15 WIB.
  7. 7. Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta: Depkes.
  8. 8. 2009. ”Pneumonia Rentan Terjadi Pada Bayi Dan Balita” dalam http://www.surabaya-ehealth.org. 10 Januari 2010. 13:20:56 WIB
  9. Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta: Depkes

10.  “Pneumonia” dalam http://www.indonesiaindonesia.com 29 Januari 2010. 19:05:10 WIB

11.  Sukarlan. Faktor risiko kejadian pneumonia pada balita di rumah sakit umum ulin di kota banjarmasin kalimantan selatan.2004 dari: http//adln.lib.unair.ac.id.

12.  Siswono. 2001. “Berat Lahir Tentukan Kecerdasan Anak” dalam http//www.gizi.net. 30 Januari 2010. 16:10:05 WIB

13.  Kusnoputranto H. 1995. Pengantar Toksikologi Lingkungan. Jakarta : Depdikbud

14.  “Waspada Pneumonia pada Anak” dalam http://www.sinodegbi.org. 30 Januari 2010. 20:15:10 WIB

“Kemungkinan Penyakit-Penyakit yang diderita Jemaah dalam Pelaksanaan Ibadah Haji”

Tingginya angka kematian dan angka kesakitan pada jemaah haji selama berada di Arab Saudi sangat erat kaitannya dengan faktor usia jamaah (usia lanjut) dengan berbagai penyakit kronik yang diidap, iklim yang sangat jauh berbeda, penatalaksanaan kesehatan sebelum berangkat, pencatatan status kesehatan tidak akurat pada buku kesehatan jamaah, ketepatan dan kecepatan diagnosis pada keadaan emergensi, serta kecepatan dan ketepatan penanggulangan kasus-kasus gawat darurat.

Setiap tahun, sekitar 200.000 jamaah haji Indonesia diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ritual haji. Setiap kloter biasanya didampingi seorang dokter dan dua paramedis yang bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan selama perjalanan tersebut. Dari pengamatan setiap tahunnya, jumlah jamaah Indonesia yang meninggal antara 400 – 500 orang.

Sampai musim haji tahun 2008, usia lanjut (diatas 60 tahun) masih mendominasi jamaah Indonesia dengan persentase 30 – 40 persen tiap kloternya dan kelompok kedua terbanyak usia 40 – 60 tahun, dengan jumlah wanita lebih banyak dari pria. Berbagai penyakit kronik yang diidap jamaah, terutama yang lansia, menjadi catatan penting bagi petugas kesehatan yang mendampingi, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru kronik, penyakit hati dan pencernaan, penyakit tulang dan sendi, serta penyakit saraf seperi post stroke. Kelompok jamaah ini disebut sebagai risiko tinggi (risti). Sebab, penyakit-penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi fatal saat melaksanakan aktivitas fisik pada cuaca yang sangat panas atau sangat dingin dengan kepadatan manusia dan polusi udara yang tinggi.

Kegiatan ibadah haji adalah kegiatan fisik semata berupa jalan kaki atau berlari kecil sewaktu melaksanakan Tawwaf, Sa’i dan berjalan menuju Jamarat sewaktu berada di Mina untuk melontar Jamarat selama tiga atau empat hari berturut-turut. Kalau hanya terbatas pada pelaksanaan aktivitas fisik yang rukun dan wajib saja, sebenarnya kelelahan dapat diatasi dengan istirahat yang cukup di antara waktu kegiatan. Serta berulang kali jalan kaki dari pondokon ke masjid setiap waktu shalat.

Hal ini mengakibatkan jamaah kurang istirahat sehingga kelelahan yang akhirnya berdampak pada melemahnya daya tahan tubuh, terutama bagi jamaah lansia dan jamaah risti. Apalagi bila jamaah merahasiakan penyakitnya, merasa tidak perlu menyampaikannya kepada dokter yang mendampingi kloternya. Karenanya, setiap jamaah perlu menyampaikan kepada dokter pemeriksa pertama tentang penyakit yang diderita secara lengkap dan jelas, meski penyakit itu tidak menimbulkan keluhan.

1. Keluhan atau gejala gangguan kesehatan jamaah haji

Keluhan atau gejala gangguan kesehatan jamaah terbanyak adalah batuk, pilek, yang kadang disertai demam dan sakit tenggorokan. Ini adalah gejala dari infeksi saluran nafas akut. Keluhan lainnya berupa sakit otot dan sendi serta lesu dan lelah sebagai akibat aktivitas fisik (jalan kaki) yang lebih banyak dari biasanya. Setiap keluhan penyakit, jangan dianggap enteng, karena kondisi lingkungan saat itu sangat memudahkan terjadi berbagai komplikasi, terutama infeksi.

Pemakaian masker hidung dan mulut yang telah disediakan panitia haji sangat bermanfaat dalam mencegah terjadinya infeksi saluran nafas. Dengan menggunakan masker selama kegiatan ritual haji, dapat mengurangi risiko infeksi saluran nafas sebesar tiga kali, dibanding jamaah yang tidak mengenakan masker.

Salah satu tugas TKHI adalah melakukan pengelolaan faktor risiko jemaah haji di kloternya, mulai dari proses identifikasi faktor risiko, pemetaan, pemantauan, sampai ke pengendalian faktor risiko.

Faktor risiko dapat berasal dari jemaah sendiri (internal), yaitu kondisi kesehatan/penyakit yang melekat pada jemaah yang dapat menjadi berat selama perjalanan ibadah haji. Dapat juga berasal dari lingkungan di luar jemaah (eksternal), seperti kemungkinan tertular penyakit, terpapar aktifitas fisik yang padat, kepadatan orang, iklim di Arab Saudi, dan lain sebagainya. Faktor risiko ini harus diwaspadai dan dikelola sebaik mungkin agar tidak muncul dan mengganggu kelancaran ibadah haji atau menyebabkan kematian.

2. Identifikasi Faktor Risiko Jemaah Haji di Kloter

a. Faktor Risiko Internal

Faktor risiko internal yang perlu diwaspadai dan diamati antara lain: Gangguan kesehatan/penyakit yang ada pada jemaah, seperti hipertensi, penyakit jantung, asma, PPOK, diabetes, stroke, dll.

Perilaku yang potensial menimbulkan gangguan kesehatan seperti: kebiasaan merokok, menyimpan jatah makanan untuk dimakan di lain waktu (menunda makan), dll. Faktor risiko internal yang berupa gangguan kesehatan/penyakit dapat diketahui dari hasil pemeriksaan kesehatan 1 dan 2 yang terekam pada Buku Kesehatan Jemaah Haji (BKJH), dan hasil pemeriksaan kesehatan akhir di embarkasi yang dapat dilihat pada pramanifest kloter. Faktor risiko internal berupa perilaku dapat diketahui dengan pengamatan jemaah haji oleh TKHI kloter.

b. Faktor Risiko Eksternal

Prosesi haji sarat dengan kegiatan fisik yang harus dilaksanakan secara sempurna dengan waktu yang telah ditentukan di berbagai tempat sekitar kota Mekkah meliputi:

a) Tawaaf (mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali, dengan arah berlawanan jarum jam, dimana ka’bah berada di sisi kiri badan).

b) Sai (berjalan sambil berlari kecil pulang balik sebanyak tujuh kali dari bukit Safa ke Mawa, yang berkisar 500 m sekali jalan).

c) Wukuf di Arafah selama satu hari (berangkat dari Mekkah sehari sebelum wukuf, dan tidur di bawah tenda pada malam sebelum wukuf).

d) Bermalam di Musdalifah di ruang terbuka, beratapkan langit dan berlantai tanah yang dipenuhi dengan debu dan manusia yang sangat padat dan diselimuti cuaca dingin.

e) Lontar Jumroh sekali sehari selama tiga hari. Perjalanan dari pemondokan ke Jamarat berjarak 2-5 km, sangat padat oleh jemaah yang lalu lalang, dan berdesakan saat melontar jumroh.

3. Potensial Penyakit di Arab Saudi

A. Penyakit Menular

Beberapa penyakit infeksi yang mempunyai potensi tinggi terinfeksi dan berbahaya selama menunaikan ibadah haji antara lain adalah:

1) Meningitis meningokokus(Radang Selaput Otak)

Adanya calon jemaah haji yang berasal dari daerah yang endemis meningitis meningokokus merupakan sumber rantai penularan penyakit ini. Penyakit ini menular dan disebabkan oleh kuman ‘meningokoccal’, yang cepat berkembang pada suhu tinggi atau rendah seperti di Arab Saudi. Kepadatan yang terjadi selama menunaikan haji merupakan faktor risiko meningkatkan penularan penyakit tersebut.

Pemerintah Arab Saudi sejak tahun 1987 mewajibkan setiap calon jemaah haji atau yang melakukan umroh harus mendapatkan vaksinasi meningitis meningokokus. Namun pada musim haji 2000 dan 2001 terjadi KLB meningitis meningokokus dengan jumlah penderita masing-masing 1300 dan 1109 orang. Lebih dari 50% penderita di atas disebabkan oleh karena N. meningitidis serogroup W135. Terjadi perubahan pola penyebab penyakit. Sejak tahun 2001 pemerintah Arab Saudi sudah diperkenalkan vaksin meningitis kuadrivalen. Namun demikian disadari bahwa ada kemungkinan munculnya strain liar yang fatal.

Faktor-faktor pencetus terjangkitnya penyakit ini:

a) Daya tubuh lemah

b) Tinggal di tempat yang padat

c) Bergaul langsung dengan penderita, atau kontak langsung melalui air ludah, dahak,ingus dan debu.

Tanda-tanda dan gejala:

a) Panas mendadak

b) Sakit kepala

c) Perut mual dan muntah

d) Bicara tidak menentu (mengigau)

e) Kaku kuduk

Pencegahan ‘Menangitis’:

a) Vaksinasi ‘Menangitis’

b) Kebersihan diri dan lingkungan

c) Menghindari tempat yang terlalu padat

d) Pengobatan propilaksis dengan sulfadiazine atau rifampycin

2) ISPA dan Influenza

Influensa merupakan penyakit yang sangat menular dan ada di Arab Saudi. Penyebabnya adalah: Virus, menular melalui udara. ISPA merupakan proporsi penyakit terbesar (57%) pasien yang dirawat inap di RS Arab Saudi. Sementara data surveilans kesehatan haji Indonesia menunjukkan bahwa kasus ISPA (THT) merupakan yang terbanyak sebagai penyebab kunjungan ke sarana pelayanan kesehatan. Studi tentang pola penyakit menunjukkan bahwa H. Influenza, K pneumonia, dan S pneumosia merupakan penyebab utama kejadia ISPA.

WHO menganjurkan bahwa calon jemaah usia lanjut atau risiko infeksi influenza tinggi disarankan untuk mendapatkan vaksinasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa insidens penyakit ini tinggi selama musim haji. Seiring dengan meningkatnya kasus flue burung terutama dari beberapa daerah di Indonesia maka pengamatan dan pengenalan yang ketat terhadap gejala dan masa inkubasi harus dilakukan dengan baik terutama di embarkasi.

3) Polio

Pemerintah Arab Saudi telah menyatakan bebas Polio sejak tahun 1995. Namun setelah terindentikasi kasus polio di Indonesia yang diduga dibawa dari Arab Saudi baik oleh Jemaah haji ataupun tenaga kerja wanita dari Arab Saudi, upaya lebih giat kini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit ini. Kasus polio dibawa oleh jemaah haji yang berasal dari negara yang belum bebas polio. Saat ini pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap pengunjung berusia kurang 15 tahun harus menunjukkan sertifikat vaksinasi polio.

4) Diare

Penyakit ini kerap menyerang jemaah haji Indonesia. Tahun lalu dua kloter embarkasi Solo melaporkan kejadian luar biasa diare saat mau mendarat di debarkasi Solo. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan dan tingkat pengetahuan. Kebiasaan makan jajanan yang tidak terkontrol dan menyimpan makanan terlalu lama merupakan faktor risiko yang meningkatkan kejadian penyakit di atas.

5) Infeksi Melalui Cairan Tubuh

Penyakit yang kerap terjadi melalui cairan tubuh adalah penyakit hepatitis B, C dan HIV. Di Mekkah potensi penularan ini dapat terjadi karena jemaah haji banyak berasal dari daerah yang endemis hepatitis. Cara penularan yang mudah dapat terjadi melalui cukur rambut yang tidak bersih yang dilakukan selama menunaikan ibadah haji.

6) Penyakit Lain Jamaah Haji:

a) Radang Tenggorokan (Pharingitis)

· Penyebab: Bakteri Virus

· Penularan: Melalui udara. pernapasan.

b) Radang Cabang Tenggorokan (Bronchitis)

· Penyebab: Bakteri Virus

· Penularan: Melalui percikan dahak batuk, udara.

c) Radang Paru-paru (Pneumonia)

· Penyebab: Basil atau Virus

· Penularan: Melalui udara pernapasan, percikan ludah.

d) Desentri

· Penyebab: Basil, Amuba

· Penularan: Melalui makanan/minuman yang tercemar kuman.

e) Kholera

· Penyebab: Vibrio kholera

· Penularan: Melalui makanan/minuman

f) Typhus

· Penyebab: Basil Typhus

· Penularan: Melalui makanan/minuman.

B. Penyakit Kronis

Perjalanan jauh dengan kondisi menderita penyakit kronis atau risiko tinggi harus memperhatikan tidak hanya ketersediaan obat yang selama ini digunakan, tetapi juga kesanggupan kegiatan fisik yang dikerjakan. Data kematian haji tahun 2007 menunjukkan bahwa sebagai besar kematian terjadi oleh karena penyakit kronis yang berhubungan dengan peningkatan aktifitas fisik, seperti penyakit jantung dan obstruksi paru kronis. Risiko meninggal pada kelompok umur di atas 70 tahun meningkat secara tajam (hampir 10 kali kelompok usia 50-60 tahun). Kematian yang terjadi di luar sarana pelayanan kesehatan cukup tinggi. Hampir 40% jemaah yang meninggal berada di luar sarana pelayanan kesehatan.

Selain itu, penyakit yang sering diderita jamaah haji: Sengatan Panas (Heat Stroke). Penyakit ini disebabkan oleh:

a) Penumpukan panas yang berlebihan di dalam badan.

b) Suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, dengan kelembaban udara rendah, maka penguapan keringat sangat besar, diikuti timbulnya panas tubuh.

c) Jamaah terlalu lelah atau terkena sinar matahari secara langsung.

Jenis penyakit sengatan panas:

a) Heat Exhaustion (Lelah Panas)
Gejalanya sama dengan gejala dehidrasi (kekurangan zat cair ringan): Kulit kering , haus dan pusing, lelah, mual, serta nafsu makan menurun.

b) Heat Cramp (Kejang Panas)

Tingkat lebih lanjut dari Heat Exhaustion, gejalanya: Suhu badan naik (sampai 38 – 39’ C), Kejang otot (otot extremilasi otot betis)

c) Heat Stroke

Stadium ketiga dari sengatan panas merupakan keadaan gawat namun reversible, dengan gejala:

· Hyperpirexia (suhu rectal 40’ atau lebih)

· Kulit kering, kadang-kadang berkeringat

· Berbicara tidak menentu (mengigau)

· Kesadaran bisa menurun hingga koma

Cara menghindari Sengatan Panas :

a) Tidak berada diterik matahari langsung, antara pukul 10.00 s/d 16.00

b) Keluar kemah/rumah terutama pada siang hari, harus memakai payung dan berbekal minuman

c) Minum setiap hari paling sedikit 5 – 6 liter atau 1 gelas setiap jam. Jangan menunggu sampai haus

d) Jangan menahan buang hajat besar atau kecil

e) Usahakan kondisi badan tetap segar, cukup istirahat dan tidur 6 – 8 jam sehari semalam

f) Pakailah pakaian yang agak longgar dan sedapat mungkin berwarna putih

g) Makanlah buah-buahan segar, seperti jeruk, apel, pier dsb.


4. Pengaruh Lingkungan Penerbangan Terhadap Faal Tubuh

a. Pengaruh ketinggian pada faal tubuh:

Pada dasarnya lapisan udara makin keatas makin renggang dan makin rendah tekanannya dan makin kecil pula tekanan parsiil 02 nya. Manusia dapat hidup pada tekanan 760 mmhg, pada suhu tropis 20 – 30 C dan kebutuhan total udara kering sebesar 20,9 %, sedangkan tekanan udara parsiil 02 sebesar 159 mmhg, sedang udara dalam alveoli sebesar 40 mmhg dan saturasi sebesar 98 %.

a). Hipoksia: Prinsip hukum diffusi gas dari tekanan tinggi ke rendah. Dimana jaringan tubuh kekurangan 02.

b). Disbarisma: Semua kelainan yang terjadi akibat perubahan tekanan kecuali hipoksia. Problema trapped gas adalah rongga-rongga yang terdapat dalam tubuh kita seperti saluran pencernaan, disana udara akan mengembang dan menimbulkan rasa mual sampai sesak begitu juga bila terjadi pada telinga tengah. Problema evolved gas, terjadi pada ketinggian tertentu yang larut dalam cairan tubuh atau lemak. Mulai pada ketinggian 25.000 kaki gelembung gas N2 yang lepas mulai menunjukan gejala klinis gatal atau kesemutan, rasa tercekik sampai terjadi kelumpuhan. Untuk mencegahnya perlu dilakukan denitroenisasi dengan 100 % 02 dan lamanya tergantung pada ketinggian yang hendak dicapai dan berapa lama di ketinggian tersebut.

c). Pengaruh kecepatan dan percepatan terhadap faal tubuh: Akibat kecepatan dan percepatan yang tinggi mempunyai efek terhadap faal tubuh.

5. Beberapa Masalah Kedokteran Pada Penerbangan Jarak Jauh

1) Motion sicknes bukanlah merupakan suatu penyakit, namun respon normal terhadap gerakan-gerakan dan situasi yang tidak biasa dijumpai dengan gejala mual, keringat dingin, pusing, alergi, dan muntah. Wanita lebih berisiko dari pria. Untuk mencegahnya jangan melakukan perjalanan dalam keadaan perut kosong. Bila mual usahakan kepala tetap tegak. Jangan membaca menunduk, usahakan pandangan lurus kedepan. Sedang obat-obat dapat menggunakan dramamine, antihistamin lainnya.

2) Nyeri sinus- telinga dan gigi. Volume udara dalam telinga tengah dan sinus akan mengembang sekitar 25 % pada tekanan 5000 – 8000 kaki. Bila saluran yang menghubungkan antara rongga-rongga tersebut dengan hidung baik maka tidak akan menimbulkan keluhan. Nyeri pada gigi biasanya akibat gangren atau pulpitis.

3) Pada manusia usia lanjut banyak mengalami perubahan fisik & psikologis yang perlu penanganan khusus supaya keamanan & kenyamanan mereka dapat dijaga selama penerbangan. Perubahan fisik tersebut meliputi: berkurangnya kemampuan bergerak, keseimbangan, gangguan sensoris, gangguan pendengaran, berkurangnya sensoris perasa, tajam penglihatan yang berkurang, banyaknya keluhan pada jaringan lunak gigi geligi, meningkatnya angka kejadian penyakit jantung & paru. Perubahan Psikologis yang sering terjadi adalah depresi yang mengakibatkan Sindroma Takut Terbang.

Penerbangan haji akan terasa nyaman dan tidak menjadi masalah bagi mereka yang sering bepergian dengan pesawat terbang. Akan tetapi, bagi mereka yang belum pernah naik pesawat terbang atau bahkan kereta api sekalipun, penerbangan haji yang berlangsung sekitar 8 – 10 jam dari tanah air hingga Arab Saudi dapat menimbulkan beberapa kesulitan atau perasaan tidak nyaman terutama pada jemaah haji Indonesia yang sebagian besar termasuk LANSIA.

6. Pengaruh Kelembaban, Udara Kering, udara dingin dan Dehidrasi

Kelembaban (hunmiditas):

Berbeda dengan udara lembab yang terdapat di kota-kota dekat pantai, misalnya Medan, Jakarta dan Makassar yang derajat kelembabannya (humiditas) 80–95%, udara di dalam kabin penumpang ternyata lebih kering. Kondisi udara di dalam kabin bertekanan pada tempat penumpang berada, yang setara dengan kondisi udara pada ketinggian 5000–8000 kaki, kelembaban (humiditas)-nya adalah 40–50%.

Udara kering:

Kelembaban yang rendah atau udara kering akan memudahkan penguapan dari keringat melalui pori-pori kulit tubuh sehingga tanpa disadari ternyata tubuh telah kehilangan banyak cairan tubuh, hal ini akan lebih berbahaya bila terjadi pada Lansia. Penguapan keringat: Kehilangan keringat di lingkungan udara yang kering tidak disadari sehingga dapat mengancam kesehatan tubuh. Apalagi bila disertai jumlah urine yang bertambah banyak akibat udara yang dingin, akan sangat berbahaya pada kondisi fisik dan fisiologi tubuh jemaah haji Lansia.

Udara dingin:

Udara dingin atau sejuk selama penerbangan sekitar 8–10 jam akan merangsang otak mengeluarkan hormon yang meningkatkan produksi air seni (urine). Hal ini akan menyebabkan kandung kemih cepat penuh yang merangsang pengeluaran urine sehingga ingin berkali-kali ke kamar kecil (toilet).

Dehidrasi:

Penguapan keringat disertai pengeluaran urine yang berlebihan, apalagi jika tidak diimbangi dengan minum secukupnya maka akan terjadi dehidrasi. Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh calon jemaah haji (penumpang) kehilangan dan kekurangan cairan (yang diikuti pula dengan kehilangan dan berkurangnya garam tubuh). Adapun gejalanya adalah otot pegal, haus dan lain-lain. Menanggulanginya adalah dengan minum secukupnya, menghabiskan makanan yang dihidangakan oleh pramugari dan memakai krim kulit atau salep vaseline.

Selain itu, kemungkinan penyakit lain yang timbul:

1. Pembesaran prostat

Pada beberapa lanjut usia (lansia) yang menderita pembesaran (hipertrofi) kelenjar prostat akan mengalami hambatan pada saluran urine sehingga tidak dapat berkemih. Untuk menolong penderita tersebut perlu dilakukan pemasangan kateter.

2. Anemia hipoksia

Yaitu sel darah kekurangan zat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Kita ketahui hemoglobin berfungsi untuk mengangkut oksigen. Hipoksia ini dapat dialami oleh penderita anemia. Calon jemaah haji Lansia sebagian besar menderita penyakit anemia. Penderita anemia sebagian besar dari kalangan petani dan nelayan yang status gizinya kurang baik.

3. Kelelahan

Adalah suatu keadaan dimana efisiensi kerja menurun secara progresif disertai perasaan tidak enak badan, penurunan daya tahan tubuh, dan efisiensi jasmani dan daya berpikir. Penyebab kelelahan: Persiapan dan perjalanan dari kampung halaman menuju ke asrama haji, menunggu keberangkatan lalu tiba di bandar udara, selanjutnya menunggu lagi, lalu duduk di kursi penumpang pesawat terbang haji selama lebih dari 8 jam penerbangan, semua itu menyebabkan kelelahan. Vibrasi atau getaran serta bising (noise) yang ditimbulkan oleh empat buah mesin jet pesawat terbang, walaupun kadarnya ringan, ikut menambah beban yang menghasilkan kelelahan serta mengganggu nafsu makan serta nyenyaknya tidur penumpang. Seharusnya, waktu selama dalam penerbangan tersebut dimanfaatkan untuk tidur supaya menghilangkan kelelahan.

Lokasi dan gejala:

Kelelahan dapat terjadi lokal (lelah sebagian tubuh seperti lengan, tungkai dan lain-lain) dan umum (lelah seluruh tubuh). Gejala atau tanda-tanda lelah yang biasa ditemukan ialah pegal-pegal (sendi dan otot) dan tanda-tanda mental yaitu gugup, mudah tersinggung (pemarah), sukar berpikir, sukar tidur, sakit kepala, waktu untuk bereaksi lebih lambat, pelupa, kurang teliti, kondisi menurun, daya memutuskan pendapat (judgement) mulai terganggu, mata lelah, gangguan saluran penecernaan, nafsu makan menurun, dan lainlain.

Pencegahan:

Upaya pencegahan dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi faktor-faktor penyebab kelelahan (meliputi factor kejiwaan, fisik dan faal tubuh), antara lain dengan tidur yang cukup, yaitu sekitar 8 jam sehari/semalam, menggunakan masa istirahat sebaik-baiknya, makan sesuai ketentuan gizi kesehatan (cukup jumlah dan gizi, bersih, tidak terlalu merangsang/pedas, dan lain-lain), dan menghindari pekerjaaan yang melelahkan.

4. Aerotitis atau barotitis.

Rasa sakit atau gangguan pada organ telinga bagian tengah yang timbul sebagai akibat adanya perubahan tekanan udara sekitar tubuh disebut aerotitis/barotitis. Barotitis dapat terjadi baik pada waktu naik (ascend) maupun turun (descend). Hanya saja pada waktu menurun, presentase kemungkinan terjadinya lebih besar daripada waktu naik. Hal ini disebabkan sifat atau bentuk tuba Eustachius yang lebih mudah mengeluarkan udara dari bagian telinga ke tenggorokan daripada sebaliknya. Hal akan sangat berbahaya pada penumpang Lansia yang yang pengetahuannya kurang dan fungsi faal tubuh sudah berkurang, bahkan dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga.

7. Persiapan Menjelang Keberangkatan

Dengan memperhatikan hasil pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter rumah sakit atau puskesmas, calon haji dapat mengetahui apakah ia menderita penyakit tertentu yang dapat menjadi masalah dalam penerbangan. Penyakit-penyakit tersebut antara lain tekanan darah tinggi (hipertensi), kencing manis (diabetes melitus), penyakit jantung, batuk dan sesak nafas (asma paru, bronkhitis, TBC atau sakit jantung, penyakit liver, pembesaran kelenjar prostat, gigi berluang atau gangren, penyakit remautik, lumpuk akibat stroke, sakit maag (ulu hati, gastritis) ambeien (wasir, hemorrhoid), penyakit tekanan bola mata tinggi (glaukoma), hamil dan lain-lain. Pada derajat ringan yang ringan, penderita salah satu penyakit tersebut, terkadang masih diluluskan.

Mewaspadai darurat jantung pada penerbangan haji terutama Lansia Penyakit jantung adalah salah satu penyakit yang rawan terhadap berbagai tekanan situasi selama kegiatan ibadah haji, termasuk dampak penerbangan haji yang cukup panjang. Terdapat jenis penyakit jantung yang digolongkan sebagai kelompok penyakit berisiko tinggi (risti) atau high risk disease adalah penyakit jantung koroner (PJK). Oleh karena lebih dari 60% yang menunaikan ibadah haji berusia 45 tahun keatas, maka akan sangat mungkin mewaspadai penyakit jantung koroner.

Waspadai Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah fenonema berkurangnya atau terhentinya aliran udara pernafasan yang terjadi saat tidur akibat radius saluran pernafasan yang menyempit atau obstruksi dari saluran pernafasan. ASA mempunyai peran sebagai penyebab kematian hipertensi, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, serta penyebab kematian mendadak (sudden death). OSA sangat penting diperhatikan mengingat penerbangan haji adalah penerbangan jarak jauh, mengingat risiko mati mendadak dan kecelakan yang disebabkannya.

Sakit Kepala Pada Penerbangan Haji juga perlu diwaspadai. Setiap tahun jemaah haji Indonesia berjumlah lebih dari 200 ribu orang, dimana lebih dari 40% termasuk usia lanjut (Lansia). Walaupun para jemaah haji sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat dan lengkap, namun tidak jarang dalam perjalanan penerbangan timbul gangguan, keluhan yang dirasakan tidak nyaman, salah satu keluhan itu adalah pusing bahkan sampai sakit kepala, dari ringan sampai berat.

Tips yang perlu diperhatikan:

1. Sebelum melakukan perialanan

Pastikan berangkat dalam keadaan rileks, bebas dari beban fisik,dan psikis dan tidak dalam keadaan sakit. Persiapkan segala keperluan jauh-jauh hari. Usahakan meminimalkan transit, tidur lebih awal, agar tetap ketika berangkat.

2. Selama dalam perjalanan

Begitu naik pesawat, ubah waktu jam tangan anda sesuai dengan waktu Negara tujuan, perbanyak minum air putih dan sari buah, tidur selama perjalanan dilakukan hanya waktu di tempat tujuan menyatakan demikian (malam), lakukan gerakan peregangan dan relaksasi otot-otot tubuh baik di tempat duduk maupun pada saat transit, lakukan sesekali jalan-jalan di dalam kabin, hindari minum kopi, alkohol & orange.

3. Di tempat tuiuan

Yang paling penting pertama kali dilakukan adalah melakukan aktifitas seperti yang biasa dengan menyesuaikan jam di tempat yang baru, termasuk waktu makan dan tidur.

Sumber:

Depkes RI. 2008. “Bahan Bacaan Peserta TKHI”. Dalam http://www.lrckesehatan.net. /PDF/TKHI/.24 Oktober 2009. 11:30:20 WIB.

Rachmad, Edy. 2009. “Pembinaan Kesehatan jamaah Haji”. Dalam http://waspadamedan.com/index.php?option=com. 29 Oktober 2009. 10:30:10 WIB.

“Waspadai Gangguan Penyakit Akibat Perubahan cuaca”. Dalam http://www.kjrijeddah.org.sa/haji/.html. 29 Oktober 2009. 09:10:15 WIB

Masalah – Masalah Yang Ditemukan Selama Perjalanan Haji

A. Masalah Cuaca

Pelaksanaan ibadah haji tahun ini jatuh pada bulan Desember. Pada saat itu, Arab Saudi diterpa musim dingin yang dimulai sejak bulan Oktober hingga bulan Maret. Puncak musim dingin ini akan berlangsung pada bulan Desember-Januari. Pada saat itu, suhu udara bisa mencapai dua derajat celcius. Pada saat musim panas, yang jatuh pada bulan April, suhu udara di Arab Saudi bisa mencapai 55 derajat celcius disertai angin panas.
Menurut situs http://www.informasihaji.com yang disediakan Departemen Agama, musim dingin di Arab Saudi diawali dengan angin bertiup kencang disertai badai debu. Kelembaban udara di Arab Saudi sangat rendah. Dengan kata lain, meskipun dingin, udaranya sangat kering. Karena udaranya kering sering kali jemaah haji tidak merasa haus karena tubuhnya tidak berkeringat. Tubuh tidak berkeringat karena air dari dalam tubuh kita langsung menguap diserap udara luar.
Penyakit yang sering muncul akibat udara dingin yang kering ini, antara lain kulit bersisik disertai gatal, batuk dan pilek, penyakit saluran cerna, gangguan otot dan tulang, mimisan, bibir pecah-pecah, dan dehidrasi. Kondisi ini juga memperberat penyakit-penyakit yang sudah diderita pada jemaah risiko tinggi (risti) seperti jantung, diabetes, asma, rematik, darah tinggi, dan lain-lain. Selama beribadah, jemaah haji akan tinggal di Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Dari ketiga kota itu, suhu udara di Madinah adalah yang paling dingin, berkisar 13-33 derajat celcius. Mekkah dan Jeddah suhunya masing-masing 22-35 derajat celcius dan 17-33 derajat celcius.

Pencegahan penyakit akibat suhu dingin tersebut diharapkan para jamaah haji :
1) Minum setiap jam
Meskipun tidak haus, disarankan minum air satu gelas (300 cc) setiap satu jam. Ini untuk mencegah kekurangan cairan (dehidrasi). Total air minum yang harus dikonsumsi lebih kurang 5-6 liter per hari.
2) Makan yang teratur
Agar tubuh tidak lemah, jemaah haji juga harus makan teratur. Ketika berada di Mekkah, selama 21 hari, jemaah haji harus menanggung sendiri makanan yang dibutuhkan. Adapun ketika berada di Madinah, selama tujuh hari, konsumsi ditanggung pemerintah. Jemaah juga disarankan untuk mengonsumsi banyak sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung air, seperti jeruk, apel, pisang, melon, semangka, dan lain-lain. Namun, untuk buah anggur, banyak jemaah yang mengeluh sakit radang tenggorokan setelah mengonsumsi buah ini.
3) Minum susu
Untuk menjaga ketahanan tubuh, minum susu dianjurkan setiap hari. Susu ini banyak dijual di sepanjang jalan. Bermacam-macam susu dijual, mulai dari susu sapi, susu kambing, hingga susu kuda.
4) Makan Makanan hangat
Jemaah haji juga disarankan untuk mengonsumsi makanan dan minuman dalam keadaan masih hangat. Makanan atau minuman dingin dikhawatirkan tidak terlindung dari kuman penyakit serta dapat mengganggu daya tahan tubuh. Jangan lupa mengonsumsi air matang.
Menghindari tubuh dari terpaan udara penting dilakukan agar kulit tidak kering dan bersisik serta cairan tubuh tidak diserap udara luar. Pemakaian pelembab kulit dan pelembab bibir sangat disarankan.
5) Istirahat yang cukup
Karena kegiatan selama menunaikan ibadah haji cukup banyak, sebaiknya jemaah haji tetap memerhatikan istirahat yang cukup. Tidur tidak boleh kurang dari 6-8 jam sehari serta selalu menggunakan selimut pada waktu tidur karena udara dingin. Agar bisa menjalankan ibadah wajibnya selama tujuh hari, batasi kegiatan-kegiatan yang tidak perlu atau tidak ada hubungannya dengan kegiatan ibadah haji supaya tubuh tetap sehat.
6) Memakai pakaian yang sopan, rapi, dan tebal
Agar dapat meredam pengeluaran panas tubuh serta dapat melindungi tubuh dari serangan cuaca dingin maka jemaah haji dianjurkan memakai pakaian yang sopan, rapi, dan tebal.
7) Membawa obat-obatan
Membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsi sangat disarankan meskipun di tempat ibadah haji banyak tersedia apotek. Obat-obatan ini harus dikonsultasikan dulu dengan dokter, terutama bagi jemaah risiko tinggi. Jemaah risiko tinggi juga harus mematuhi diet dari dokter.

Kondisi alam dan iklim Arab Saudi mempunyai perubahan suhu dan kelembaban yang sangat berbeda. Sangat ekstrim dengan cuaca di Indonesia. Adakalanya cuaca sangat panas. Banyak jamaah haji yang jatuh sakit di negeri panas. Jelas ini sangat mengganggu ibadah mereka. Ini disebabkan makanan yang tidak bergizi dan dikosumsi tak teratur, kurang istirahat, penyakit yang diderita sebelumnya di tanah air dan sebagainya. Sebagai pencegahnya, jamaah haji kita sangat dianjurkan untuk makan teratur. Makanan yang dikosumsi pun harus yang bergizi dan bervitamin seperti sayur-sayuran, buah-buahan, jus, dan sebagainya
Selain makan yang bergizi dan teratur, jamaah haji harus menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup, karena ibadah haji adalah ibadah yang membutuhkan tenaga ekstra dan fulltime selama sebulan lebih. Saat ada waktu jeda antara shalat lima waktu atau ibadah lainnya, manfaatkanlah waktu luang itu untuk istirahat bila tidak ada hal mendesak dan penting. Yang mesti diutamakan adalah beribadah maksimal selama di tanah suci. Bayangkan, untuk dapat shalat shubuh di dalam Masjidil Haram atau Nabawi, para jamaah harus berjuang melawan dingin malam dan kantuknya, lalu berlomba bersegera ke masjid pukul 3 malam. Sedangkan shalat shubuh sekitar pukul 5 pagi. Padahal semalam pulang dari masjid pukul 10. Paling cepat tidur pukul 11.

B. Pemondokan Jauh

Pemondokan adalah variabel kritis penyelenggaraan ibadah haji. Di samping kondisi kelayakan huni rumah, jarak dari Masjidil Haram akan sangat memengaruhi keoptimalan ibadah jamaah haji. Pemondokan menjadi masalah krusial untuk musim haji tahun ini, terutama untuk pemondokan di Kota Makkah. Tahun ini lokasi pemondokan mayoritas berada di radius lebih dari 1.400 meter dari Masjidil Haram. Penyebab utamanya tahun ini penyewaan pemondokan kita amat terlambat, juga penawaran harga kita yang terlalu rendah.
Jauhnya pemondokan dari masjidil Haram dan masjid Nabawi, pemondokan yang tidak layak dihuni (kamar mandi rusak, fentilasi tidak ada, AC tidak ada, dll), penempatan jamaah yang melebihi kapasitas, tidak sesuai penempatan seperti yang dijanjikan di tanah air, dll. Hal yang amat menjengkelkan, dan amat tak sesuai dengan biaya mahal yang dipungut.
Pemerintah menjelaskan pemondokan yang berada dalam radius 1.400 meter dari Haram hanya mencapai 17,62 persen atau menampung 35.315 jamaah. Di luar itu, lebih dari 150 ribu jamaah akan menempati pemondokan yang lebih jauh. Bahkan, di dua titik pemondokan terpadat, Aziziah Janubiah dan Sauqiah, jaraknya 3-7,5 kilometer dari Haram. Untuk lokasi Aziziah Mahatta Bank, jamaah harus menempuh jarak 7-8 km untuk mencapai Masjidil Haram. Ada pula pemondokan yang berjarak sampai 12 km dari Haram.
Jamaah haji Indonesia tak hanya terdiri dari yang bugar fisik dan cukup pengalaman serta pengetahuan dalam bepergian ke luar negeri. Banyak yang sudah berusia lanjut, dengan kondisi fisik yang tak lagi prima. Jarak yang cukup jauh, bahkan mungkin ada yang harus sejauh 10 km dari Masjidil Haram, di negeri asing, dengan segala keawaman mereka, akan menjadi potensi masalah tersendiri. Bisa dibayangkan bila pemondokannya berjarak 10 kilometer, lebih dari 1.500 km yang harus ditempuh. Tentu ini amat melelahkan, dengan faktor iklim yang ekstrim pula. Maka kesiapan tim kesehatan haji amat dibutuhkan. Kesigapan tim, juga obat-obatan yang sesuai dan memadai, serta alat-alat kesehatan yang lengkap.

C. Transportasi

Salah satu hal kecil yang terabaikan tetapi dapat berakibat fatal adalah bus-bus kita di terminal tidak mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda yang akan dengan mudah dikenali di tengah kepadatan jutaan manusia. Pernah seorang ibu menunggu dua jam di pinggir terminal karena tidak tahu mana bus yang harus dinaikinya, sementara dia memiliki keterbatasan pemahaman bahasa dalam berkomunikasi. Kesulitan yang paling dirasakan jemaah haji Indonesia 1429 adalah angkutan antara pondokan di Syauqiah ke Masjidil Haram, karena bus yang disediakan pemerintah sulit diperoleh akhirnya jemaah harus mencari angkutan umum sendiri pulang pergi agar bisa beribadah ke Masjidil Haram.
Juga pengalaman sebelumnya, bus ada tetapi tidak dapat digunakan karena ditinggalkan begitu saja oleh para pengemudinya. Jamaah harus mengeluarkan biaya ekstra untuk naik taksi. Untuk menempuh jarak tersebut jemaah naik angkot dengan tarif cukup bervariasi.

D. Tenaga kesehatan

Tim kesehatan harus mengutamakan kepentingan jamaah daripada kepentingan masing-masing. Shalat di Masjidil Haram setiap waktu tentu sebuah kebaikan yang amat didambakan setiap Muslim. Namun, keberadaan dokter yang stand by tentu dalam hal ini lebih utama, sesuai tugas keberangkatannya. Dengan mekanisme shift yang adil tentu ini dapat diatasi. Seandainya anggota tim kesehatan berkeinginan menunaikan ibadah haji, disarankan mengambil manasik haji tamattu agar dapat lebih optimal melayani kebutuhan jamaah.
E. Penerbangan

Jutaan jamah haji yang tiap tahun menggunakan jasa airline sejatinya menyumbang signifikan bagi keberlangsungan maskapai penerbangan yang digunakan secara rutin tersebut. Apresiasi yang diharapkan dari pihak jasa penerbangan tentunya adalah ketepatan jadwal penerbangan. Keterlambatan yang terjadi masih memprihatinkan. Tahun lalu masih terjadi delay hingga 30 jam. Kondisi ini amat memperburuk kesehatan jamaah. Sebaiknya pihak airline lebih bertanggung jawab dalam pelayanannya, dengan menyiapkan kondisi pesawat secara prima. Jangan terulang lagi kerusakan yang harus menunggu datangnya spare part dari luar negeri untuk perbaikannya.

F. Katering

Para jamaah dilarang oleh petugas maktab untuk membawa makanan dan minuman. Petugas itu berjanji menyediakan katering selama di Arafah dan Mina. Namun, kenyataannya katering tidak kunjung datang, sehingga banyak para jamaah yang kelaparan. Tidak sedikit jamaah jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal pada peristiwa ini. Masalah catering haji sepanjang pelayanan haji tetap bermasalah walaupun upaya-upaya perbaikan setiap tahunnya terus dilakukan.
Segeralah menyantap makanan yang disajikan pada waktu kita mendapat jatah, karena makanan yang ada standarnya +/- 5 jam dan setelah itu makanan tersebut sudah rusak atau tidak layak dikonsumsi. Hal ini kurang disadari oleh jamaah haji sendiri, dengan alasan masih kenyang maka makanan yang dibagikan dan seharusnya dikonsumsi saat itu namun dengan alasan tadi dikonsumsi diwaktu nanti.
Selalu berhati-hati terhadap makanan yang diberikan, jangan terlalu yakin kalau makanan yang kita peroleh dari catering benar-benar layak dikonsumsi secara kesehatan, karena terkadang memang makanan dari perusahaan catering tersebut sudah rusak. Terkadang daging sudah mengeluarkan busa, sayuran sudah berubah rasa, nah karena kita terlalu yakin bahwa makanan yang dibagikan sudah sesuai dengan standar kontrol kesehatan yang telah ditetapkan maka tanpa ragu lagi kita santap aja makanan tersebut. Sebaiknya makanan yang dicurigai tidak layak dikonsumsi jangan dipaksakan untuk dimakan, karena hal ini bisa berakibat terhadap gangguan kesehatan terutama diare. jika mendapati kondisi makanan yang rusak segeralah laporkan ke petugas.
Hindari membeli makanan dipinggir jalan, sebaiknya belilah makanan di restoran-restoran yang tersedia di dekat penginapan atau masjid karena kalau ditempat resmi mereka selalu diawasi akan pengolahan dan penyajiannya, bahkan kalau pas ada sidak (inspeksi mendadak) dan kedapatan restorannya ada yang tidak sesuai standar kesehatan penyajian maka bisa terkena denda bahkan kurungan badan.
Catatan untuk hal ini adalah pada cita rasa makanan, dengan asumsi masalah ketepatan waktu penyajian sudah diantisipasi betul. Tentu bukan mudah bagi jamaah untuk menyantap makanan dengan cita rasa yang asing di lidah sehingga kerap kebutuhan nutrisi mereka menjadi tidak terpenuhi. Maka jamaah yang jatuh sakit menjadi bertambah. Dalam hal ini cita rasa masakan Indonesia perlu sungguh-sungguh diperhatikan, dengan mendatangkan bumbu-bumbu masakan langsung dari Tanah Air. Juga akan lebih membantu bila katering yang biasa melayani jamaah umrah dilibatkan optimal karena tentu pengalaman pelayanan mereka akan sangat membantu.

G. Keamanan dan Kenyamanan

Pencurian di pemondokan atau hotel sangat sering terjadi. Maka kepada jamaah haji diingatkan agar selalu waspada dan berhati-hati, jangan pernah lalai dan lengah semenit pun di sana. Simpanlah uang dan harta berharga dengan baik. Pastikan pintu kamar pemondokan atau hotel terkunci dan kuncinya dibawa.
Tingginya angka kematian, baik karena kecelakaan jalan raya, thawaf, sa’i, lempar jumrah dan sebagainya, harus menjadi pelajaran berharga. Faktor utama kecelakaan saat di area berhaji adalah ketidaksabaran para jama’ah. Diharapkan kepada para jamaah, agar mematuhi peraturan lalu lintas dan aturan pelaksanaan haji oleh pemerintah Arab Saudi, baik ketika thawaf, sa’i maupun lempar jumrah. Jangan memaksakan diri untuk melempar jumrah bila kondisi penuh sesak. Jangan paksakan diri thawaf berdekatan dengan ka’bah pada waktu berdesak-desakan. Thawaf dibolehkan di lantai II atau lantai III. Begitu juga dengan sa’i. Keselamatan lebih diutamakan daripada mengejar perbuatan afdhal.

Sumber:

.“Waspadai makan selama di tanah suci” dalam http://abusyafwan.blogspot.com/.2008 diakses 05 November 2009: 12:11:10 WIB

“Tips menjaga kesehatan selama haji” dalam http://drlizakedokteran.blogspot.com/2009. diakses 05 November 2009: 11:56:10 WIB

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3591

KHASIAT BUAH DAN SAYUR BERGIZI BAGI KESEHATAN DAN BIKIN KAYA

NO. NAMA BUAH HASIL OLAHAN
1. ANGGUR Anggur merupakan buah yang biasanya digunakan untuk membuat jus anggur, jelly, minuman anggur, minyak biji anggur dan kismis, atau dimakan langsung. Anggur yang banyak diperdagangkan berbagai jenisnya antara lain; anggur yang berwarna hijau dan anggur yang berwarna unggu kemerah-merahan.
2. APEL Apel merupakan buah yang biasanya digunakan untuk membuat jus apel, saus apel (apel yang dimasak sampai lembek) dan berbagai jenis makanan pesta. Makanan, Kebanyakan apel bagus dimakan mentah-mentah (tak dimasak. Terdapat banyak jenis apel,seperti:apel malang yang kulit luarnya hijau. Selain itu juga banyak apel- apel import dari luar Indonesia, seperti:newzaland,dll.

3. ALPOKAT Alpokat merupakan buah bertipe buni, memiliki kulit lembut tak rata berwarna hijau tua hingga ungu kecoklatan, tergantung pada varietasnya. Daging buah alpukat berwarna hijau muda dekat kulit dan kuning muda dekat biji, dengan tekstur lembut.
Dan biasanya digunakan untuk membuat jus alpokat dan campuran dalam minuman seperti Es campur.

4. BELIMBING
Buah belimbing berwarna kuning kehijauan. Saat baru tumbuh, buahnya berwarna hijau. Buah ini renyah saat dimakan, rasanya manis dan sedikit asam. Buah ini mengandung banyak vitamin C.
Salah satu jenis dari belimbing, yang disebut belimbing wuluh, sering digunakan untuk bumbu masakan, terutama untuk memberi rasa asam pada masakan. Kegunaan belimbing memiliki banyak sari (air), sehingga memungkinkan untuk dibuat wine buah. Di Myanmar, belimbing digunakan untuk membuat acar teh.

5. CEMPEDAK Cempedak adalah buah yang bentuk, rasa dan keharumannya seperti nangka, meski aromanya kerap kali menusuk kuat mirip buah durian. Biasanya buah ini dimakan dalam keadaan segar atau diolah terlebih dulu. Daging buah cempedak, terkadang beserta bijinya sekali, diberi tepung, gula atau garam dan digoreng, dijadikan camilan minum teh atau kopi. Bijinya dapat digoreng, direbus atau dibakar, sebelum dimakan dengan campuran sedikit garam. Buah mudanya, seperti nangka muda, dapat dijadikan sayur.
6. CEREMAI Buah cerme sering dimakan segar dengan dicampur gula, garam atau dirujak. Cerme juga kerap dibuat manisan, direbus (disetup) atau dibuat minuman penyegar. Daun mudanya digunakan sebagai lalap.Rebusan akar cerme digunakan untuk meringankan asma dan mengobati penyakit kulit.

7. CERI Ceri, biasanya digunakan sebagai garnish atau pemanis dalam penghiasan kue tart, selain itu bunga ceri juga dijadikan hiasan. Buah ceri yang segar dapat juga dimakan langsung tanpa harus diolah terlebih dahulu. Buah ceri mengandung anthocyanin, yaitu pigmen warna merah yang baik untuk kesehata karena merupakan antioksidan.

8. DELIMA Delima adalah buah yang dapat dimakan langsung, dan kadang buah ini menjadi campuran dalam Es campur.

9. DUKU Duku memiliki tekstur kulit buah yang lebih tebal dan rasa sedikit asam, berbeda dengan langsat yang bertekstur kulit tipis dan manis rasanya. Buah ini dimakan langsung tanpa harus diolah.
10. DURIAN Durian, bauh ini mengeluarkan bau yang kuat dan khas. Bagian buah yang dapat dimakan adalah salut biji yang berwarna kekuningan, yang melindungi bijinya. Banyak orang menganggap buah durian sebagai buah yang enak. Masyarakat sering menyebutnya “raja buah-buahan”. Durian dari Indonesia biasaanya berasal dari medan dan kalimantan. Sedangkan yang menjadi eksportir penting durian adalah Thailand, yang mampu mengembangkan kultivar dengan mutu tinggi. Hasil olahan durian yang terkenal yaitu tempoyak durian (dodol durian).

11. ENAU Pohon enau atau aren menghasilkan banyak hal, terutama sebagai penghasil gula. Dapat juga di fermentasi menjadi minuman beralkoholyang disebut tuak. Selain itu dengan cara membiarkan begitu saja selama beberapa hari nira dapat berfermentasi dapat menjadi cuka.Nira mentah (segar) bersifat pencahar (laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti. Selain itu diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling.Kolang-kaling disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak.

12. GANDARIA Gandaria dimanfaatkan buah, daun, dan batangnya. Buah gandaria berwarna hijau saat masih muda, dan sering dikonsumsi sebagai rujak atau campuran sambal gandaria. Buah gandaria yang matang berwarna kuning, memiliki rasa kecut-manis dan dapat dimakan langsung.

13. JAMBU AIR Di daerah Kuningan, daun jambu dipakai untuk pembungkus tape ketan yang terkenal manis dan banyak berair.,Jambu air ini umumnya dimakan segar, atau dijadikan sebagai salah satu bahan rujak. Aneka jenis jambu ini juga dapat disetup atau dijadikan asinan.

14. JERUK MANIS Jeruk manis atau jeruk peras memiliki kulit berwarna hijau hingga jingga dan daging buahnya mengandung banyak air. Sari buah jeruk merupakan minuman hasil perasan jeruk yang popular, seperti: jus jeruk, sari buah jeruk. Selain itu jug adapt sebagai garnish dan campuran dalam berbagai aneka kue,cake,dll. Kulit jeruk dapat diolah dengan cara tertentu menjadi manisan atau selai (marmalade). Cairan buah jeruk banyak mengandung vitamin C. Dan masih banyak jenis jeruk yang dapt dimakan segar, atau dijadikan aneka bahan pangan lainnya, contoh: jeruk Sunkist, dll.

15. JERUK NIPIS Jeruk nipis atau jeruk limau dimanfaatkan buahnya, yang biasanya bulat, berwarna hijau atau kuning, umumnya mengandung daging buah masam, agak serupa rasanya dengan lemon. Jeruk nipis dipakai perasannya untuk memasamkan makanan, seperti pada soto. Fungsinya sama dengan cuka. Sebagai bahan obat tradisional, jeruk nipis dipakai sebagai obat batuk, diberikan bersama dengan kapur.

16. KEDONGDONG Kedondong adalah buah yang dapat dimakan langsung dalam kondisi segar, atau sering pula diolah menjadi rujak, asinan, acar atau dijadikan selai. Buah ini memiliki biji tunggal yang berserabut. Daun dijadikan penyedap dalam pembuatan pepes ikan.

17. KELAPA Kelapa adalah sebutan untuk buah pohon ini yang berkulit keras dan berdaging warna putih. Pohon kelapa biasanya tumbuh di pinggir pantai.
Kelapa adalah pohon serba guna bagi masyarakat tropika. Hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan orang. Bagian dalam tempurung kelapa, memperlihatkan “daging” buah kelapa.
Sedangkan daging buah muda berwarna putih dan lunak serta biasa disajikan sebagai es kelapa muda atau es degan. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memilki khasiat penetral racun dan efek penyegar/penenang. Beberapa kelapa bermutasi sehingga endapannya tidak melekat pada dinding batok melainkan tercampur dengan cairan endosperma. Mutasi ini disebut (kelapa) kopyor. Daging buah tua kelapa berwarna putih dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan. Daging buah tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi perdagangan bernilai, disebut kopra. Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Cairan buah tua kelapa biasanya tidak menjadi bahan minuman penyegar dan merupakan limbah industri kopra. Namun demikian dapat dimanfaatkan lagi untuk dibuat menjadi bahan semacam jelly yang disebut nata de coco dan merupakan bahan campuran minuman penyegar.

18. LIMUN Lemon adalah sejenis jeruk.
Lemon biasanya digunakan sebagai garnish pada minuman, dapat juga sebagai bahan campuran aneka cake, pai, dll.
19. LENGKENG Buah-buah ini terutama dimakan dalam keadaan segar. Buah lengkeng, terutama yang berdaging tebal dan besar, dikalengkan dalam sari buahnya di Thailand, Taiwan dan Tiongkok, baik ditambah gula maupun tidak. Lengkeng juga dikeringkan, untuk dijadikan bahan pembuat minuman penyegar.

20. MANGGA Mangga yang kita makan sehari-hari, seperti mangga golek, mangga manalagi, mangga harum manis, mangga indramayu,dll. Mangga terutama ditanam untuk buahnya. Buah yang matang umum dimakan dalam keadaan segar, campuran es, jus mangga. Buah yang muda kerapkali dirujak, setelah dikupas, dibelah-belah dan dilengkapi bumbu garam dengan cabai. Buah mangga juga diolah sebagai manisan, irisan buah kering, dikalengkan dan lain-lain.

21. MANGGIS Manggis, berwarna merah keunguan ketika matang, meskipun ada pula varian yang kulitnya berwarna merah. Buah manggis biasanya dimakan langsung.

22. MARKISA Di Indonesia terdapat dua jenis markisa, yaitu markisa ungu dan markisa kuning. Sementara itu, ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut sebagai markisa manis. Markisa biasanya dijadikan sebagai sirup.

23. MELON Buahnya biasanya dimakan segar, campuran pada rujak,atau diiris-iris sebagai campuran es buah. Bagian yang dimakan adalah daging buah.Teksturnya lunak, berwarna putih sampai merah, tergantung kultivarnya.

24. NANAS Buah nanas biasanya dijadikan selai, campuran pada rujak, dan dapat dimakan sebagai buah segar.

25. NANGKA Nangka terutama dipanen buahnya. Daging buah yang matang seringkali dimakan dalam keadaan segar, dicampur dalam es, dihaluskan menjadi minuman (jus), atau diolah menjadi aneka jenis makanan daerah: dodol nangka, kolak nangka, selai nangka, nangka-goreng-tepung, keripik nangka, dan lain-lain. Nangka juga digunakan sebagai pengharum es krim dan minumnan, dijadikan madu-nangka, konsentrat atau tepung. Buah nangka muda sangat digemari sebagai bahan sayuran. Di Sumatra, terutama di Minangkabau, dikenal masakan gulai nangka. Di Jawa Barat buah nangka muda antara lain dimasak sebagai salah satu bahan sayur asam. Di Jogyakarta nangka muda terutama dimasak sebagai gudeg. Sementara di seputaran Jakarta dan Jawa Barat, bongkol bunga jantan (disebut babal atau tongtolang) kerap dijadikan bahan rujak.

26. PEPAYA Daging buah masak dimakan segar atau sebagai campuran koktail buah. Pepaya dimanfaatkan pula daunnya sebagai sayuran dan pelunak daging. Daun pepaya muda dimakan sebagai lalap (setelah dilayukan dengan air panas) atau dijadikan pembungkus buntil.

27. PIR Buah pir bisa dimakan segar, diproses sebagai buah dalam kaleng, sari buah dan kadang-kadang sebagai buah kering. Jus pir merupakan bahan dasar jelly atau selai walaupun sering dicampur dengan sari buah-buahan lain. Jus pir hasil fermentasi disebut perry.

28. PISANG Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium. Banyak aneka jenis panggan yang terbuat dari pisang,antara lain: Pisang bakar, khas dari Sumatera Barat, sale, kue, kripik,dll. Pisang meja dikonsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, seperti pisang ambon, susu, raja, seribu, dan sunripe. Pisang olahan dikonsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar, atau dikolak, seperti pisang kepok, siam, kapas, tanduk, dan uli.

29. RAMBUTAN Kata “rambutan” berasal dari bentuk buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut. Biasanya rambutan dimakan langsung, tetapi kadang ada yang dibuat sebagai manisan kaleng.

30. SALAK Buah salak selain dimakan segar, salak juga biasa dibuat manisan, asinan, dikalengkan, atau dikemas sebagai keripik salak. Salak yang muda digunakan untuk bahan rujak. Umbut salak pun dapat dimakan.

31. SEMANGKA Semangka biasa dipanen buahnya untuk dimakan segar atau dibuat jus. Biji semangka yang dikeringkan dan disangrai juga dapat dimakan isinya (kotiledon) sebagai kuaci.Buah semangka memiliki kulit berwarna hijau atau hijau muda dengan larik-larik hijau tua, yang berair berwarna merah atau kuning.

32. SIRSAK Daging buah sirsak berwarna putih dan memiliki biji berwarna hitam. Buah ini sering digunakan untuk bahan baku jus minuman serta es krim. Buah sirsak mengandung banyak karbohidrat, terutama fruktosa. Kandungan gizi lainnya adalah vitamin C, vitamin B1 dan vitamin B2 yang cukup banyak.

33. STOBERI Buah stroberi yang sudah masak
Buah stroberi berwarna hijau keputihan ketika sedang berkembang, dan pada kebanyakan spesies berubah menjadi merah ketika masak. Buah ini dapat dimakan segar, dijadikan jus stroberi, selai, dll. Bahkan didaerah Bandung dan Jakarta terdapat restoran yang semua menunya meggunakan stroberi.

34. SUKUN Sukun adalah nama sejenis pohon dan buahnya sekali. Buah sukun tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, yang mirip roti setelah dimasak atau digoreng. Sukun dapat dimasak utuh atau dipotong-potong terlebih dulu: direbus, digoreng, disangrai atau dibakar. Buah yang telah dimasak dapat diiris-iris dan dikeringkan di bawah matahari atau dalam tungku, sehingga awet dan dapat disimpan lama. Sukun dapat pula dijadikan keripik dengan cara diiris tipis dan digoreng.
Timbul atau kulur (yang berbiji) lebih banyak dipetik tatkala muda, untuk dijadikan sayur lodeh, sayur asam atau ditumis dengan cabai.

35. SAWO MANILA Sawo disukai terutama karena rasanya yang manis dan daging buahnya yang lembut.
Kebanyakan buah sawo manila dimakan dalam keadaan segar. Akan tetapi sawo dapat pula diolah menjadi serbat (sherbet), dicampurkan ke dalam es krim, atau dijadikan selai. Sari buah sawo dapat dipekatkan menjadi sirup, atau difermentasi menjadi anggur atau cuka.

Buah seringkali memiliki nilai ekonomi sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri karena di dalamnya disimpan berbagai macam produk metabolisme tumbuhan, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, alkaloid, hingga terpena dan terpenoid.

Tulisan ini berdasarkan hasil survei di daerah Pasar Baru, Jakarta pusat.
Baik dari pasar tradisional maupun supermarket daerah sekitar. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Khasiat Alpukat

Alpukat (Persea americana) — dalam Bahasa Indonesia baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut sebagai avokad — merupakan buah yang sering kita jumpai. Buah serbaguna ini memiliki banyak manfaat dan khasiat bagi manusia. Ada banyak zat yang kaya manfaat yang terdapat di buah ini. Buah berwarna hijau ini sering dimanfaatkan untuk jus atau bahan dalam es campur maupun hidangan lainnya. Rasanya yang nikmat membuat banyak orang menyukainya. Sebagian orang takut untuk mengkonsumsinya karena dianggap memiliki kandungan lemak yang tinggi. Apakah memang benar demikian? Apa saja manfaat dan khasiat alpukat atau avokad?

Alpukat atau avokad berasal dari bahasa Aztek yaitu ahuacatl. Buah ini memang berasal dari daerah tempat suku Aztek berasal yaitu di daerah Amerika Tengah dan Meksiko. Awalnya buah ini mulai diperkenalkan oleh Martín Fernández de Enciso, salah seorang pemimpin pasukan Spanyol, pada tahun 1519 kepada orang-orang Eropa. Pada saat yang sama juga, para pasukan Spanyol yang menjajah Amerika Tengah juga memperkenalkan coklat, jagung dan kentang kepada masyarakat Eropa. Sejak itulah buah alpukat atau avokad mulai disebar dan dikenal oleh banyak penduduk dunia.

Tips Cara Memilih Buah Alpukat

Sewaktu Anda pergi ke pasar untuk membeli alpukat, jangan pernah menilai matangnya sebuah alpukat dari warna kulitnya. Jika buah alpukat yang Anda temui berwarna lebih tua atau kecoklatan, belum tentu buah alpukat tersebut telah matang. Cobalah sedikit menekan buah alpukat tersebut. Jika terasa lebih lunak berarti buah itu sudah matang.

Manfaat Alpukat

Hampir setiap bagian dari pohon alpukat memiliki manfaat. Kayu pohon alpukat bermanfaat sebagai bahan bakar. Biji dan daunnya dapat digunakan dalam industri pakaian. Kulit pohonnya dapat digunakan untuk pewarna coklat pada produk yang terbuat dari kulit.

Dalam bidang kecantikan, buah alpukat juga sering digunakan sebagai masker wajah. Buah ini dianggap mampu membuat kulit lebih kencang. Buah alpukat juga bermanfaat untuk perawatan rambut misalnya sewaktu melakukan creambath.

Selain itu, sebagai buah, alpukat juga tentu bisa dinikmati sebagai hidangan yang lezat. Berbagai hidangan disajikan dengan menambah alpukat sebagai bagian dari hidangan tersebut.

Zat Kaya Manfaat dalam Alpukat

Alpukat atau avokad memiliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Alpukat atau avokad setidaknya mengandung 11 vitamin dan 14 mineral yang bermanfaat. Alpukat kaya akan protein, riboflavin (atau dikenal sebagai vitamin B2), niasin (atau dikenal sebagai vitamin B3), potasium (atau lebih dikenal sebagai kalium), dan vitamin C.

Selain itu alpukat mengandung lemak yang cukup tinggi. Namun jangan takut karena lemak pada alpukat mirip dengan lemak pada minyak zaitun yang sangat sehat. Lemak yang dikandung dalam alpukat adalah lemak tak jenuh yang berdampak positif dalam tubuh. Lemak pada alpukat juga digunakan dalam pembuatan sabun dan kosmetik.

Berikut ini penjelasan beberapa zat dalam alpukat atau avokad yang bermanfaat bagi tubuh kita:

  • Vitamin E dan vitamin A

    Vitamin E dikenal sebagai vitamin yang berguna untuk menghaluskan kulit. Campuran vitamin E dan vitamin A sangat berguna dalam perawatan kulit. Kombinasi vitamin E dan vitamin A membuat kulit menjadi kenyal, menghilangkan kerut, membuat kulit terlihat muda dan segar.

  • Potasium atau Kalium

    Potasium (dikenal juga sebagai kalium) yang ada dalam alpukat dapat mengurangi depresi, mencegah pengendapan cairan dalam tubuh dan dapat menurunkan tekanan darah.

  • Lemak tak jenuh

    Dalam alpukat ada lemak nabati yang tinggi yang tak jenuh. Lemak ini berguna untuk menurunkan kadar kolesterol darah (LDL), yang berarti dapat mencegah penyakit stroke, darah tinggi, kanker atau penyakit jantung. Lemak tak jenuh pada alpukat juga mudah dicerna tubuh sehingga dapat memberikan hasil maksimal pada tubuh. Lemak tak jenuh pada alpukat juga mengandung zat anti bakteri dan anti jamur.

  • Asam oleat

    Asam oleat merupakan antioksidan yang sangat kuat yang dapat menangkap radikal bebas dalam tubuh akibat polusi. Radikal bebas dalam tubuh akan menimbulkan berbagai macam keluhan kesehatan.

  • Vitamin B6

    Vitamin ini berkhasiat untuk meredakan sidrom pra-haid atau pra-menstruasi (PMS) yang umumnya diderita wanita setiap bulan.

  • Zat Besi dan Tembaga

    Zat ini diperlukan dalam proses regenerasi darah sehingga mencegah penyakit anemia.

  • Mineral Mangaan dan Seng

    Unsur ini bermanfaat untuk meredakan tekanan darah tinggi, memantau detak jantung dan menjaga fungsi saraf tetap terjaga.

Hidup Sehat dengan Alpukat

Di beberapa bagian dunia, buah ini dianggap sebagai salah satu buah eksotis dan langka. Mungkin alpukat telah memainkan peranan penting dalam diet makanan Anda. Setelah merasa berbagai hidangan yang mengandung alpukat atau avokad, Anda mungkin dapat mengatakan bahwa buah ini benar-benar banyak manfaatnya dan juga buah yang lezat.

by:berbagai sumber.

Manfaat si Bawang Putih

Rahasia Keampuhan Bawang Putih!

SEKALI lagi tentang bawang putih! Dr. Allen Mc Anwyll dari Darwin Medical Center dalam seminarnya minggu lalu, menyebutkan obat yang mengandung bawang putih bisa mengatasi infeksi usus, infeksi saluran pernafasan, kulit, dan luka-luka akibat gigitan binatang. Penggunaan bawang putih sebagai obat tradisional telah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu. Dan berbagai negara seperti Romawi, Mesir kuno, India, Bulgaria, telah menggunakannya.
“Bawang putih juga ampuh sebagai obat batuk, cacingan, tekanan darah tinggi, gatal-gatal, tifus, maag, diabetes dan masih banyak lagi. Bahkan bawang putih dapat digunakan untuk obat awet muda, menghambat penuaan, meningkatkan gairah seksual serta dapat menguatkan otot-otot badan,” papar Dr. Anwyll.
Banyak ilmuwan yang telah membuktikan kemujaraban bawang putih secara ilmiah. Tahun 1921 De Bray dan Loeperd ilmuan Belanda telah membuktikan khasiat bawang putih untuk pengobatan darah tinggi. Demikian juga Ortnee dari Jerman dan seorang ilmuwan Perancis, Povilaard, pada 1929.
Sementara itu tahun 1925 Prof. E. Roos dari Rumah Sakit St. Joseph di Freberg Jerman, menyimpulkan bahwa dengan dua gram umbi bawang putih setiap hari selama seminggu dapat menumbuhkan penyakit disentri. Penemuan Emil Weiss MD dari Chicago, menemukan bahwa sari bawang putih merupakan obat yang mujarab penyakit maag.
Dr. Anwyll sendiri, dalam penelitian tentang bawang putih selama 2 tahun terakhir ini, menemukan adanya senyawa yang berbau khas dalam umbi berwarna putih itu, yaitu allisin. Allisin ini dikenal mempunyai daya antibiotik.

http://centrin.net.id/~rdpnet/index-10-xb.htm

Stress??

Kiat Mengatasi Stres

BANYAK orang tidak menyadari dirinya tertimpa stres. Jangan sepelekan, akan berbahaya bagi kesehatan. Apakah anda salah satunya? Kata stres biasa digunakan untuk mengartikan reaksi seseorang dalam menghadapi suatu masalah. Stres bisa timbul karena hal-hal sepele, misalnya terjebak keadaan macet. Kejadian lebih serius dapat mengubah hidup seseorang, misalnya kematian orang terdekat atau orang tercinta.
Stres sebenarnya positif bagi anda, asalkan dalam porsi sedang-sedang saja, karena bisa membangkitkan sistem kekebalan dan mengasah otak. Sedangkan stres berat dapat menyebabkan rentan penyakit. Stres dapat memicu penyakit maag, darah tinggi, asma, dan migren. Hasil penelitian terbaru menunjukan bahwa stres berat bisa memperburuk penyakit degeneratif kronis yaitu penyakit yang menyerang fungsi organ atau jaringan tubuh seperti penyakit rematik. Sementara stres yang tersembunyi akan lebih berbahaya bagi kesehatan karena anda tidak menyadari adanya masalah.
Stres yang berlebihan bisa membuat kita tidak menyadari kehadiran stres itu sendiri. Beberapa gejala yang mencirikan tingkat stres yang tinggi :

1. Mengencangkan kedua rahang disertai rasa kesal.
2. Migren atau ketegangan yang mengakibatkan sakit kepala.
3. Susah tidur di malam hari mengalami mimpi buruk, resah disaat tidur.
4. Cemas.
5. Sakit leher, belakang atau pundak.
6. Gangguan fungsi seksual.
7. Kelelahan yang berkelanjutan.
8. Gangguan kulit seperti kulit kering dan mengelupas.
9. Keringat yang berlebihan.
10. Susah konsentrasi.
11. Sering terserang flu.
12. Gangguan koordinasi antara pikiran dan gerak.
13. Kelakuan yang menjengkelkan.
14. Susah berbicara.

Cobalah tips dibawah ini untuk membantu anda menjalani hidup dengan pikiran sehat. Dengan berpikir sehat, anda bisa mengatasi stres lebih efektif.

Tip menghilangkan stres :

1. Olah raga secara teratur, hilangkan ketegangan dengan aktivitas-aktivitas poisitif seperti jalan kaki, main tenis atau berkebun.
2. Tidur cukup dan teratur. Waktu istirahat yang cukup akan memberi kesegaran dan membuat anda loebih energik.
3. Belajar dan berlatih relaksasi, seperti tarik napas panjang dan relaksasi otot yang teratur.
4. Pertahankan diet yang seimbang dan teratur.
5. Cintailah diri Anda, perhatikan kebutuhan anda, dan maafkan kesalahan Anda.
6. Kerjakan dan selesaikan masalah anda satu persatu, tentukan yang mana yang diprioritaskan. Jangan mengharapkan sesuatu secara berlebihan.
7. Belajar menerima apa yang tidak mungkin dapat diubah oleh manusia.
8. Kemukakan masalahnya: bicarakan dengan teman dekat atau seorang ahli/konselor. Orang lain mungkin bisa melihat masalah anda dari aspek yang berbeda dan dapat menyarankan solusi atau jalan keluar yang tepat.
9. Belajar lebih rilek: luangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang anda sukai.
10. Cobalah sesuatu yang baru, misalnya makan ditempat baru atau mengunjungi tempat bersuasana baru.
11. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Cari tempat dan waktu di mana anda bisa mendapatkan ketenangan dan privacy.

Hindari penggunaan drug atau alkohol sebagai alat untuk menghilangkan stres, sebab keduanya tidak menyelesaikan masalah penyebab stres melainkan hanya melupakan sementara, bahkan akan menjadi masalah/stres baru.

(Sumber: Health Today, edisi April 2000)

Tempe, Atasi Diare

KHASIAT tempe untuk kesehatan tak lagi diragukan. Mulai dari mengatasi disentri, sampai menormalkan kadar kolesterol dalam darah. Kedelai, sebagai bahan utama tempe, adalah rahasia mengapa tempe ampuh mengatasi berbagai penyakit.
Tempe obat disentri? Keampuhannya telah dibuktikan Van Veen, seorang
peneliti dari Belanda, pada penelitiannya yang dilakukan pada awal 1940-an.
Penelitian yang dilakukan pada tahanan Perang Dunia II di Penjara daerah Pulau Jawa ini, mengungkapkan bahwa tempe terbukti mampu mengatasi disentri yang dialami para tahanan tersebut.
Beberapa ahli juga berpendapat bahwa masyarakat yang biasa mengkonsumsi tempe, lebih jarang atau tidak mudah terkena serangan penyakit saluran pencernaan.
Sementara penelitian lain menunjukkan, pemberian menu tempe kepada pasien yang mempunyai kadar kolesterol tinggi, dapat menurunkan kadar kolesterolnya ke tingkat yang normal. Tampaknya hal ini disebabkan asal tempe itu sendiri yang berasal dari kedelai.
Lebih jauh, penelitian Lembaga Gizi ASEAN menyimpulkan, tempe dapat digunakan dalam pembuatan bahan makanan campuran untuk menanggulangi masalah kekurangan kalori, protein, dan penyakit diare pada anak balita.
Disebutkan juga, tempe mempunyai khasiat antara lain mempercepat berhentinya diare akut anak, mempercepat hilangnya lekosit darah, dan dapat meningkatkan berat badan serta status gizi. Terapi gizi menggunakan bahan makanan campuran dari tempe diberikan selama diare, setidak-tidaknya sampai tiga bulan pasca diare.
Konsumen tidak perlu khawatir terhadap aflatoxin, zat yang bersifat karsinogenik pada tempe. Karena jamur yang dipakai untuk membuat tempe dapat menurunkan kadar aflatoxin hingga 70%. Penemuan ini menunjukkan bahwa seandainya ada aflatoxsin pada tempe, yang dibawa oleh bahan mentahnya, kadarnya telah dikurangi oleh adanya jamur tempe.
Sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa kedelai lebih sulit tercemar oleh aflatoxin dibanding komoditas pertanian lainnya. Disebutkan bahwa adanya zat, seperti zink pada kedelai, membuat sintesa aflatoxin terhambat. Karenanya, jelas bahwa makanan tempe lebih aman dari ‘gangguan’ aflatoxin.
Kandungan gizi tempe juga mampu bersaing dengan sumber protein yang berasal dari bahan makanan lain, seperti daging, telur dan ikan.
Yang menarik, dengan kalorinya yang relatif rendah, 149 kal per 100 gram, tempe membantu orang yang sedang diet rendah kalori. Dan dengan kandungan karbohidratnya yang 12,7 gram tempe sangat cocok untuk dikonsumsi para penderita diabetes karena tidak menandung gula.
Beberapa literatur juga menyebutkan, masyarakat yang biasa mengkonsumsi tempe, jarang terkena penyakit saluran pencernaan karena kandungan seratnya (diety fiber) mencapai 7,2 gram per 100 gram. Tempe termasuk bahan makan yang mengandung vitamin B Kompleks, diantaranya vitamin B-12 yang berfungsi untuk pembentukan butir darah merah. (Jihan F Labetubun)

dari:berbagai sumber