Dewi Oktavia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Gizi Buruk

  1. A. Masalah Gizi Buruk

    1. a. Definisi gizi buruk

Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia. Gizi buruk tidak hanya meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian tetapi juga menurunkan produktifitas, menghambat pertumbuhan sel-sel otak yang mengakibatkan kebodohan dan keterbelakangan.

Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks

berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) <-3 SD dan atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.

a)      Marasmus adalah keadaan gizi buruk yang ditandai dengan tampak sangat kurus, iga gambang, perut cekung, wajah seperti orang tua dan kulit keriput

b)      Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang ditandai dengan edema seluruh tubuh terutama di punggung kaki, wajah membulat dan sembab, perut buncit, otot mengecil, pandangan mata sayu dan rambut tipis/kemerahan.

c)      Marasmus-Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk dengan tanda-tanda gabungan dari marasmus dan kwashiorkor

  1. b. Faktor Penyebab Gizi Buruk

Ada 2 penyebab yang menimbulkan gizi buruk, antara lain:

1.  Penyebab tak  langsung

Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit penyakit infeksi, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit.

2.  Penyebab langsung

Penyebab tidak langsung : Terdapat tiga penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu :

a)      Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.

b)      Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.

c)      Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.

Sedangkan faktor-faktor lain selain faktor kesehatan, tetapi juga merupakan Masalah Utama Gizi buruk adalah Kemiskinan, Pendidikan rendah, Ketersediaan pangan dan kesempatan kerja. Oleh karena itu, untuk mengastasi gizi buruk dibutuhkan kerjasama lintas sektor.

  1. c. Gejala dan Tanda Gizi Buruk

Ada 3 macam tipe Gizi buruk, yaitu :

a)      Tipe Kwashiorkor, dengan  tanda-tanda dan gejala adalah sebagai berikut:

  1. Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh.
  2. Perubahan Status mental
  3. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut  tanpa rasa sakit, rontok
  4. Wajah membulat dan sembab
  5. Pandangan mata sayu
  6. Pembesaran hati
  7. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas

b)      Tipe Marasmus, dengan tanda-tanda dan gejala sebagai berikut:

  1. Tampak sangat kurus
  2. Wajah seperti orang tua
  3. Cengeng, rewel
  4. Kulit keriput
  5. Perut cekung

c) Tipe, Marasmik-Kwashiorkor

Merupakan gabungan beberapa gejala klinik Kwashiorkor – Marasmus

  1. d. Penyakit Penyerta / Penyulit pada Anak Gizi Buruk

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, anak yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya status gizi anak. Penyakit-penyakit tersebut adalah:

a) ISPA

b) Diare persisten

c) Cacingan

d) Tuberkulosis

e) Malaria

f)        HIV / AIDS

  1. B. Epidemiologi Masalah Gizi Buruk di Indonesia

Berdasarkan perkembangan masalah gizi, pada tahun 2005 diperkirakan sekitar 5 juta anak menderita gizi kurang (berat badan menurut umur), 1,5 juta diantaranya menderita gizi buruk. Dari anak yang mmenderita gizi buruk tersebut ada 150.000 menderita gizi buruk tingkat berat yang disebut marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor, yang memerlukan perawatan kesehatan yang intensif di Puskesmas dan Rumah Sakit. Masalah gizi kurang dan gizi buruk terjadi hampir di semua Kabupaten dan Kota. Pada saat ini masih terdapat 110 Kabupaten/Kota dari 440 Kabupaten/Kota di Indonesia yang mempunyai prevalensi di atas 30% (berat badan menurut umur). Menurut WHO keadaan ini masih tergolong sangat tinggi.

Berdasarkan hasil surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2005, total kasus gizi buruk sebanyak 75.671 balita. Kasus gizi buruk yang dilaporkan menurun setiap bulan. Semua anak gizi buruk mendapatkan penanganan berupa: perawatan di Puskesmas dan di Rumah Sakit serta dilakukan tindak lanjut paska perawatan berupa rawat jalan, dan melalui posyandu untuk dipantau kenaikan berat badan dan mendapatkan makanan tambahan.

Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal dunia dilaporkan dari bulan Januari 2005 sampai Desember 2005 adalah 286 balita (Grafik 1). Kasus gizi buruk yang meninggal tersebut pada umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti ISPA, diare, TB, campak dan malaria. Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal tertinggi terjadi pada bulan Juni sebanyak 107 kasus, selanjutnya pada bulan-bulan berikutnya kasus gizi buruk yang meninggal cenderung menurun, bahkan pada bulan Nopember tidak ada laporan kasus gizi buruk yang meninggal dunia. Namun demikian pada bulan Desember 2005 terjadi peningkatan kasus gizi buruk yang meninggal dunia sebanyak 54 kasus yang merupakan laporan dari 7 propinsi yaitu dari Jatim 14 kasus, Sulsel 13 kasus, Gorontalo 13 kasus, NTT 6 kasus, Lampung 4 kasus, Sulteng 2 kasus, serta Maluku dan Malut masing-masing 1 kasus.

Terbebas dari kelaparan dan malnutrisi sekaligus mendapat nutrisi yang baik adalah hak asasi manusia. Malnutrisi membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit dan kematian dini. Pengukuran antropometri untuk mendapatkan status gizi seseorang telah dikenal luas dan terutama dilakukan pada anak-anak. Rendahnya persentase berat badan terhadap usia mencerminkan akibat kumulatif dan malnutrisi yang berkepanjangan atau kekurangan nutrisi sejak lahir.

Indonesia mempunyai masalah gizi yang besar ditandai dengan masih besarnya prevalensi gizi kurang pada anak balita, Kurang Vitamin A (KVA), Anemia kurang zat besi dan Kurang Yodium. Prevalensi gizi kurang pada periode 1989-1999 menurun dari 29.5% menjadi 27.5% atau rata-rata terjadi penurunan 0.40% per tahun, namun pada periode 2000-2005 terjadi peningkatan prevalensi gizi kurang dari 24.6% menjadi 28.0% Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan propinsi selama tahun 2005 terdapat 76.178 balita mengalami gizi buruk dan data Susenas tahun 2005 memperlihatkan prevalensi balita gizi buruk sebesar 8.8%. Pada tahun 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kasus gizi buruk di beberapa propinsi dan yang tertinggi terjadi di dua propinsi yaitu Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pada tanggal 31 Mei 2005, Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur telah menetapkan masalah gizi buruk yang terjadi di NTT sebagai KLB, dan Menteri Kesehatan.

Sumber: Susenas, 2003

Dari tabel di atas tergambar bahwa distribusi kabupaten /kota berdasarkan prevalensi sangat tinggi gizi kurang dan gizi buruk (bb/u) berdasarkan data dari susenas 2003 adalah Provinsi NTT dan Sulsel.

Sumber: Laporan Dinas Kesehatan perPropinsi

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Distribusi kasus gizi buruk per Provinsi Berdasarkan Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Januari-Desember tahun 2005, Jumlah kasus gizi buruk yang dilaporkan tertinggi di Provinsi Jawa Barat sebesar 18095 kasus, dan Jumlah kasus meninggal terbanyak adalah Provinsi Jawa Tengah yaitu 94 orang.

  1. C. Penanggulangan Masalah Gizi Buruk Dengan Upaya Peningkatan Pelayanan Kesehatan

Penanganan gizi buruk yang paling krusial dan perlu mendapat perhatian serius adalah penanganan bayi umur 1-2 tahun mengingat pada masa inilah pertumbuhan otak dan nutrisi asupan makanan yang cukup. Untuk inilah diperlukan koordinasi dan sinkronisasi penanganan pasien antara dinas kesehatan dan rumah sakit dan dalam penanganan gizi buruk ini. Berkaitan dengan hal ini Pemerintah menitik beratkan prioritas pada program peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat yang ditujukan bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Indikator pencapaian sasaran ini adalah meningkatnya angka harapan hidup, menurunnya jumlah Angka Kematian Bayi (AKB), menurunnya jumlah Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI), menurunnya angka kasus gizi buruk, meningkatnya cakupan pelayanan air bersih dan sanitasi.

Contoh upaya dan pencegahan penaggulangan gizi buruk di Provinsi NTB dan NTT:

Upaya pencegahan dan penanggulangan gizi buruk di Provinsi NTB dan NTT

Provinsi NTB:

a)      Membentuk tim operasi sadar gizi (OSG) yang bertanggung jawab dalam keseluruhan proses pencegahan dan penanggulangan gizi buruk berdasarkan instruksi Gubernur Nomor 1 tahun 2005.

b)      Perawatan gizi buruk melalui Puskesmas perawatan dan Rumah Sakit dikelas 3 gratis.

c)      Melakukan operasi sadar gizi yang mencakup deteksi dini penemuan

d)      kasus melalui operasi timbang dengan mengukur balita di seluruh propinsi NTB, membuat mapping gizi buruk.

e)      Puskesmas melakukan tindak lanjut kasus gizi buruk yang tidak memerlukan perawatan dan mendapatkan makanan tambahan.

f)        Memberikan bantuan pangan darurat bagi keluarga miskin

g)      Memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan melalui Posyandu, Tokoh Agama (Tuan Guru), Perkumpulan Keagamaan dan kelompok potensial lainnya.

Propinsi NTT

a)      Melaksanakan sistem kewaspadaan dini secara intensif

b)      Pelacakan kasus dan penemuan kasus baru.

c)      Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan Puskesmas dan diRumah Sakit gratis

d)      Koordinasi penggerakan sumber dana

e)      Memberikan bantuan beras dan memberikan makanan pendamping ASI, dan makanan tambahan.

Secara Nasional upaya pencegahan gizi buruk dibagi dalam 3 tahap yaitu:

a. Jangka Pendek untuk Tanggap Darurat

a)      Menerapkan prosedur tatalaksana penanggulangan gizi buruk yaitu :

b)      Melaksanakan sistem kewaspadaan dini secara intensif

c)      Pelacakan kasus dan penemuan kasus baru.

d)      Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan Puskesmas dan diRumah Sakit

e)      Melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan koordinasi lintas program dan lintas sektor. Memberikan bantuan pangan, memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), pengobatan penyakit, penyediaan air bersih, memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan terutama peningkatan ASI Eksklusif sejak lahir sampai 6 bulan dan diberikan Makanan Pendamping ASI setelah usia 6 bulan, menyusui diteruskan sampai usia 2 tahun .

b. Rencana Jangka Menengah:

Penyusunan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005 –2009  :

a)      Revitalisasi Posyandu yang mencakup pelatihan ulang kader, penyediaan sarana, pembinaan dan pendampingan kader, penyediaan modal usaha kader melalui usaha kecil menengah (UKM) dan mendorong partisipasi swasta serta bantuan biaya operasional.

b)      Revitalisasi puskesmas dengan mengaktifkan kegiatan preventif dan promotif, meningkatkan manajemen program gizi, sarana dan bantuan biaya operasional untuk kegiatan pembinaan posyandu, pelacakan kasus, dan kerjasama lintas sektor.

c)      Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan termasuk tata laksana gizi buruk bagi petugas rumah sakit dan puskesmas perawatan

d)      Pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi, pendidikan dan bidang ketahanan pangan untuk meningkatkan pengetahuan dan daya beli keluarga.

e)      Advokasi dan Pendampingan untuk meningkatkan komitmen ekskutif dan legislatif, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan media massa agar peduli dan bertindak nyata di lingkungannya untuk memperbaiki status gizi anak.

f)        Revitalisasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) pemantauan terus menerus situasi pangan dan gizi masyarakat, untuk melakukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah timbulnyabahaya rawan pangan dan gizi buruk.

c. Rencana Jangka Panjang :

a)      Mengintegrasikan program perbaikan gizi dan ketahanan pangan ke dalam program penanggulangan kemiskinan

b)      Meningkatkan daya beli masyarakat

c)      Meningkatkan pendidikan terutama pendidikan wanita

d)       Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi, yaitu

  • Menimbang berat badan secara teratur Makan beraneka ragam setiap hari
  • Hanya memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan, memberikan MPASI setelah usia 6 bulan , menyusui diteruskan sampai usia 2 tahun.
  • Menggunakan garam beryodium
  • Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A, tablet Fe) kepada anggota keluarga yang memerlukan.

Pemecahan masalah Gizi.

Masalah Gizi buruk, tidak dapat diselesaikan sendiri oleh sektor kesehatan. Gizi Buruk merupakan dampak dari berbagai macam penyebab. Seperti rendahnya tingkat pendidikan, kemiskinan, ketersediaan pangan, transportasi, adat istiadat (sosial budaya), dan sebagainya. Oleh karena itu, pemecahannyapun harus secara komprehensif.

Strategi Departemen Kesehatan untuk penanganan Gizi Buruk:

a)      Menggerakan dan memberdayakan Masyarakat untuk hidup Sehat

b)      Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas

c)      Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan

d)      Meningkatkan pembiayaan kesehatan

Langkah-langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi untuk mengatasi masalah Gizi Buruk:

a)      Pertemuan dan Pelatihan Penatalaksanaan Gizi buruk untuk puskesmas

b)      Pelatihan Surveilans Gizi

c)      Pemberian MP ASI baik berupa bubur maupun biskuit untuk bayi dan balita terutama untuk keluarga miskin ( Berasal dari dana APBN )

d)      Pemberian susu kepada bayi dan balita untuk Kabupaten/Kota ( APBD )

e)      Tahun ini (2009), lewat dana BANSOS, dilaksanakan pelacakan Gizi buruk di Kabupaten/Kota.

Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat harus melibatakan semua pihak yang terkait baik pemerintah, wakil rakyat, swasta, unsur perguruan tinggi dan lain-lain. Indonesia mengalami beban ganda masalah gizi yaitu masih banyak masyarakat yang kekurangan gizi, tapi di sisi lain terjadi gizi lebih. Kabupaten Kota daerah membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, misalnya kebijakan yang mempunyai filosofi yang baik “menolong bayi dan keluarga miskin agar tidak kekurangan gizi dengan memberikan Makanan Pendamping (MP) ASI (Hadi, 2005).

Sedangkan alternatif solusi lainnya yang dapat dilakukan antra lain (Azwar, 2004).

  1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait.
  2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat, sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan.
  3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian ‘best practice’ (efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan publik.
  4. Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan.
  5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi, misalnya kesehatan, pertanian, pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
  6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta, LSM dan masyarakat.

Daftar Pustaka

Arifin, Munif. 2009. Gizi Buruk. “Permasalahan Gizi Masyarakat” http://www.malukuprov.go.id. 30 Januari 2010. 17:30:20 WIB.

Arifin, Munif. 2009. “Permasalahan Gizi Masyarakat” dalam http://indonesianpublichealth.blogspot.com. 30 Januari 2010. 20:16:19 WIB

Depkes RI, 2008. “Sistem kewaspadaan dini (skd) Klb-gizi buruk” dalam http://www.gizi.net. 30 Januari 2010. 19:20:15 WIB

2008.“Pelayanan kesehatan” dalam http://www.lrc-kmpk.ugm.ac.id. 30 Januari 2010. 20:10:15 WIB

2 Komentar

  1. hendri

    Masalah gizi buruk harus ditengani secara serius..
    karena boleh jadi kasus ini terjadi di lingkungan sekitar kita namun kita tidak respek terhadapnya…

    mari kita sama-sama berjuang untuk mengentaskan gizi buruk di daerah sekitar kita…

    • dewietavia

      iya setuju pak hendri…hehe..salam kenal yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: